Arsip untuk Mei, 2008
USAHA – Asesories Kue Ulang Tahun
Mei 20, 2008AIBIOGRAFI – SCENE AWAL
Mei 16, 2008Scene ini paling membosankan karena gw gak bisa inget pasti apa yang gw lakuin dari umur 0-10 tahun. Taunya gw, kata abang gw sih, tadinya hidup kita pernah enak bentaran waktu masa Abang gw ngejalanin umur 0-6 tahunnya dia.
Kata Abang gw : ( Kalo gak salah inget diomongin waktu umur gw sepuluh tahunan )
“Mainan yang lo pake sekarang tuh bekasan gw semua. Dulu Papa masih punya kios kecil dipasar. Lumayanlah. Hidup dan keuangan kita masih teratur. Gw mo mainan apa juga pasti dibeliin.
Yah, nasib lo aja, dek. Cuma bisa pake bekasan gw. Udah pada setengah rusak lagi.”
— Gw gak tau persis ( en gak pernah mo tau sampe sekarang. Apalagi Papa udah almarhum ) napa sampe akhirnya jadi kurang berkecukupan —
— Mungkin karena gw aslinya emang orang yang enjoy-enjoy aja ngejalanin hidup,
kayaknya gw gak pernah merasa pernah jadi orang susah, biarpun seingat gw ( bukan dari cerita Abang gw ) kalo kita sekeluara sesekali lagi pengen makan enak – keluarga gw total tujuh orang, Mak, Papa, Abang, gw sendiri en tiga adek – beli ayam gule padang sepotong dicacah kecil-kecil buat makan siang dan malam.
Gw juga gak pernah merasa sedih harus rebutan makan udang kecil-kecil ( apa ya sebutannya? ) ama Abang en adek-adek, sampe itung-itungan sisa ekornya biar ketauan masing-masing makan berapa biji. Biasanya kalo ketauan ada yang makan lebih banyak pasti berantem. Dan kita paling berantem kalo urusan bagi jadwal kerja bantuin Mak. Yang kebagian nyapu ngiri ama yang jatahnya nyuci piring. Yang jatahnya cuci bak mandi ngiri ama yang nyapu. Yang cuci piring ngiri ama yang jatahnya ngepel. Yah, bolak balik ngiri-ngirian-lah.
Gw juga gak ngerasa nestapa kalo sebelum berangkat sekolah mesti bantuin Mak nganterin kue jajanan buat dititipin ke warung-warung. Juju raja, kadang-kadang dongkol pasti ada. Wajar, namanya juga manusia apalagi masih anak-anak.
Lagian gimana gw mo merasa susah en nestapa kalo ke sekolah gw masih bisa pake tas biar butut. Masih pake sepatu biar jelek. Sebab teman sebangku gw waktu kelas empat SD malah gak bisa punya tas sekolah. Benerkan kata orang pinter : CAKRAWALA TAK BERBATAS, yang mungkin maksudnya adalah DIATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT dan DIBAWAH PERMUKAAN MASIH ADA PERMUKAAN.
………………………………………( sELANJUTNYA : scene pertama :
BOHONGIN EN NYOLONG DUIT TANTE YANG KAYA
BUAT BELI MAJALAH EN BUKU )
BERSYUKUR
Mei 15, 2008Catatan pembuka :
– Salesman yang gw pake sekarang tadinya adalah tukang ojek yang penghasilannya paling top sebulan adalah Rp. 600.000,-an ( kotor ). Dia gw ‘ambil’ karena terlihat oleh mata ‘sakti’ ( he…he…he…) gw adalah tipe orang rajin, gesit dan jujur –
(Ada percakapan yang menurut gw cukup menarik antara gw ama salesman gw ).
Tadi malem pas dia pulang gak bawa order, duduk lemes di depan gw yang kebetulan juga lagi nyante.
GW : Napa lu ?
Sales GW : Sepi, boss. Gak ada orderan
GW : Ya, udah. Mo diapain? Emang kondisi lagi gitu. Yang penting sampe saat ini penghasilan lu udah jauh berlipat ketimbang dulu nerusin ojek’kan?
Sales GW : Iya, sih. Tapi ketemu temen-temen dipangkalan sih kata mereka makin pahit, apalagi ntar kalo BBM naek lagi
GW : Kalo gak salah gw, termasuk komisi penjualan lu, dalam sebulan lu bisa dapet kurang lebih antara Rp. 2 – 2,5 jt-an’kan?
Sales GW : Iya. Cuma kadang-kadang mikir aja, napa pas ada kenaikan penghasilan biaya hidup malah bertambah, kenapa gak waktu biaya hidup murah penghasilan saya kayak sekarang
Gw melotot tajam. Emosi. ‘Khotbah ‘ kecil siap meluncur dari mulut gw ( Kata anak anak sih gw kadang-kadang suka ngeselin karena kayak Mak-mak. Dikit-dikit ceramah, dikit-dikit ‘khotbah’. Yah, mo diapain?Hobi sih…).
GW : Lu gak bersyukur! Jangan ngeluh kayak ngitu. Jangan suka berandai-andai. Lu tau gak, kalo yang lu andaikan itu gak benar. Soal biaya hidup itu adalah sesuatu hal yang pasti udah terkondisikan, dengan atau tanpa kenaikan penghasilan lu. Kalo lu mo berandai, andaikan saja kalo penghasilan lu masih tukang ojek dan biaya hidup adalah kondisi saat ini. Gimana itu?Lakukan itu, baru lu bisa bersyukur.
Sales GW : Bersyukur mah tiap hari, boss…
GW : Bersyukur bukan untuk diucapkan saja tapi dilakoni. Jangan gampang ngeluh.
Dia diem. Trus pamit pulang
— Hidup gak hanya perlu gesit, pintar dan jujur saja. Ucapkan dan jalankan KATA SYUKUR tiap hari
SELAYANG PANDANG KRISTEN KOPTIK DALAM NOVEL DAN FILM “AYAT-AYAT CINTA”
Mei 7, 2008SELAYANG PANDANG KRISTEN KOPTIK DALAM NOVEL DAN FILM “AYAT-AYAT CINTA”
Oleh: Bambang Noorsena, SH, MA *
http://ourunity.blogspot.com/2008/05/selayang-pandang-kristen-koptik-dalam.html
1. Catatan Pengantar
Fenomena sukses film “Ayat-ayat Cinta”, arahan Hanung Brahmantyo ini adalah
menarik untuk dicermati. Film layar lebar yang diangkat dari novel karya
Habiburrahman el-Shirazy ini [1] dalam waktu singkat telah berhasil meraup
pemirsa lebih dari 3 juta orang di seluruh tanah air. Ada yang menonton
karena memang lebih dahulu sudah menbaca novelnya, ada pula yang hanya
“sekedar ingin tahu”, karena penyambutan film ini yang cukup luas. Bukan
hanya Dr. Din Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah, akan tetapi juga melibatkan
Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf Kala, yang memberikan sambutan antusias.
Ada yang memuji, ada pula yang menanggapi biasa-biasa saja. Ada apa di balik
novel dan film ini? Beberapa orang berkomentar, “ini iklan poligami”,
“referensi baru buat pemilik rumah makan Wong Solo”, tetapi ada pula yang
serius mencermati kaitan film dan novel ini dengan hubungan Kristen-Islam di
Mesir. Artikel singkat ini, mungkin tergolong yang terakhir, kebetulan tokoh
Maria Girgis, yang digambarkan berasal dari keluarga Kristen Koptik, Gereja
pribumi di Mesir, sebagai Gereja Ortodoks terbesar di dunia Arab. Sebagai
seorang pengamat Gereja-gereja Timur, kenyataannya saya menemukan beberapa
kejanggalan mengenai tradisi Kristen Koptik, yang digambarkan “secara sambil
lari” dalam film ini.
2. Sekilas Film “Ayat-ayat Cinta”
Sebelum memberi beberapa catatan terhadap novel dan film ini, bagi yang
tidak membaca novel atau menonton film ini, akan disarikan cerita yang
diangkat oleh novelis muda lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo, ini:
Dikisahkan, Maria Girgis (Carissa Putri), putri Tuan Butros dan Maddame
Nafed [2] bertetangga flat (apartemen) dengan Fahri, mahasiswa Indonesia
yang kuliah di Universitas al-Azhar. Maria, terlahir dari keluarga Kristen
Koptik, digambarkan mengagumi Al-Qur’an, karena ayat-ayatnya yang
dilantunkan indah, bersimpati pada Fahri. Simpati yang akhirnya berubah
menjadi cinta. Sayang sekali, Maria tidak pernah mengutarakan perasaan
hatinya. Ia hanya menuangkannya dalam diary saja.
Selain Maria, ada juga Nurul (diperankan Melanie Putri), mahasiswi asal
Indonesia, anak seorang kyai yang cukup kesohor, yang juga menimba ilmu di
Al-Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati kepadanya, tetapi sayang rasa cinta
itu dihalangi oleh perasaan mindernya, karena Fahri hanya anak seorang
petani. Cinta yang akhirnya tak terucapkan. Ada juga tetangga yang selalu
disiksa “ayahnya”, dan Fahri ingin menolongnya, tetapi justru itulah yang
menjadi awal bencana baginya. Fahri harus beberapa saat mendekam di penjara,
karena tuduhan fitnah telah memperkosanya. Saat badai fitnah menimpa, saat
itu Fahri sudah menikah dengan Aisha, gadis Turki yang menjadi warga Negara
Jerman. Pendekatan diplomatik Indonesia buntu, gagal membebaskan Fahri.
Tetapi berkat kewarganegaraan Jerman yang dimiliki Aisha, pengadilan Mesir
melunak. Fahri bebas, setelah dibuktikan bahwa tuduhan itu fitnah belaka.
Sebenarnya Fahri hanya difitnah, kesaksian Noura palsu karena dinyatakan di
bawah tekanan Bahadur, “ayah”nya. Padahal Bahadur, yang ternyata bukan ayah
kandungnya, justru dialah yang memerkosanya, dan ingin menjualnya menjadi
seorang pelacur. Sementara itu, Maria sedang sakit, karena tekanan batin
yang dideritanya karena Fahri telah menemukan “sungai Nil”-nya, dan dia
ternyata bukan dirinya. Tetapi berkat kegigihan Aisha, istri Fahri, Maria
berhasil dihadirkan ke pengadilan. Kedatangannya menolong Fahri, karena ia
menjadi saksi ketika Fahri dan Nurul menyembunyikan Noura di rumah Nurul,
demi menyelamatkan Noura dari amukan Bahadur.
Justru Aisha sendiri, yang ketika Maria terbaring sakit, membaca diary-nya.
Ternyata Maria memendam rindu kepada Fahri, cinta yang dibawanya sampai ia
terbaring sakit. Aisha terharu. Ia akhirnya bersedia “membagi cinta”
dengan Maria. Suaminya justru disuruh mengawini Maria, karena itulah
satu-satunya obat bagi kesembuhannya. Fahri dan Maria pun kawin atas
restunya. Madamme Girgis, ibu Maria, sangat berterima kasih dengan
pengorbanan Aisha. Madamme Girgis memeluk erat Aisha, ketika wanita
keturunan Turki itu menghindar dari akad nikah yang sedang diselenggarakan
antara Fahri dan Maria yang sedang berbaring sakit, karena tidak bisa
menahan gejolak jiwanya. Beberapa menit terakhir film ini diisi dengan
adegan kebersamaan antara Fahri dengan kedua istrinya. Ada cemburu antara
kedua istri Fahri, tetapi keduanya berusaha keras “menjaga hati”. Sementara
Fahri mempergumulkan makna keadilan bagi kedua istrinya. Aisha sedang hamil
tua dan menunggu kelahiran bayinya, sementara Maria kembali jatuh sakit.
“Ajarilah aku shalat”, ucap Maria kepada Fahri, “karena aku ingin shalat
bersama kalian”. Fahri dan Aisha terkejut luar biasa. Dan dalam keadaan
terbaring Maria shalat bersama Fahri dan Aisha, dan gadis Kristen Koptik itu
mengehembuskan nafas terakhirnya sebagai seorang muslimah.
3. Tradisi Kristen Koptik di Mesir – Selayang Pandang
Gereja Ortodoks Koptik adalah gereja pribumi Mesir. Gereja ini lahir sejak
awal sejarah Kekristenan, diawali dari kedatangan Rasul Markus, murid Rasul
Petrus sekaligus penerjemahnya, yang juga dikenal sebagai penulis Injil
Markus [3]. Markus mati syahid di Alexandria tahun 54 M, dan sejak saat itu
Kekristenan berkembang pesat di “Negeri Firaun” itu.
Berbeda dengan gereja-gereja di wilayah Arab utara, khususnya Gereja
Ortodoks Syria, yang sejak sebelum zaman Islam sudah menggunakan bahasa
Arab, terbukti dari temuan-temua prasasti pra-Islam di wilayah Syria
(Inskripsi Zabad tahun 512 M, Inskripsi Ummul Jimmal para abad VI M, dan
inskripsi Hurran al-Lajja tahun 568 M), Gereja Koptik mula-mula memakai
bahasa Koptik. Tetapi setelah kedatangan Islam, Gereja Koptik di Mesir mulai
memakai bahasa Arab, berdampingan dengan bahasa Koptik. Bahasa Koptik
adalah bahasa zaman Firaun yang aksara-aksaranya diperbarui dengan meminjam
aksara Yunani.
Perlu dicatat pula, di seluruh gereja Timur, termasuk Gereja Ortodoks
Koptik, masih dilestarikan tata-cara ibadah dalam penghayatan budaya
Kristen mula-mula. Misalnya: Shalat Tujuh Waktu (Sab’ush shalawat)[4],
Shaum al-Kabir (Puasa Besar) pra-Paskah, selama minimal 40 hari, [5] membaca
Injil dengan cara dilantunkan secara tartil (dikenal dengan Mulahan Injil-
yang paralel dengan Tilawat al-Qur’an, dan masih banyak lagi. Anda bisa
menyaksikan seorang pemuda yang komat-kamit membaca Kitab di tangannya
sewaktu naik bus, atau kendaraan lain di Mesir. Siapakah mereka? Ternyata
bukan hanya pemuda Islam yang membaca al-Qur’an, tetapi juga pemuda-pemuda
Koptik dengan tatto Salib [6] di tangan sedang membaca kitab Agabea. Itulah
Kitab Shalat Tujuh waktu, yang tidak pernah mereka alpakan, juga ketika
mereka sedang berkendara di jalan, sepulang kantor, atau berangkat ke
kampus.
Informasi terakhir, meskipun orang Muslim atau orang Kristen di Mesir
sama-sama berbahasa Arab, tetapi antara keduanya tetap bisa dibedakan.
Idiom-idiom keagamaan mereka berbeda, tetapi juga tidak jarang pula sama
atau paralel. Di koran-koran berbahasa Arab, ucapan bela sungkawa orang
Kristen biasanya diawali ungkapan: Intiqala ila Amjadis samawat (Telah
berpulang kepada Kemuliaan Surgawi), cukup mudah dibedakan dengan kaum
Muslim: Inna Iillahi wa Inna Ilayhi Raji’un (Sesungguhnya semua karena Allah
dan kepada-Nya pula semua akan kembali). Tapi ada banyak persamaan tradisi,
misalnya: pertunangan, perkawinan, kematian, dan masih banyak lagi.
4. Resensi atas Novel dan Film “Ayat-ayat Cinta”
Kalau tidak berpretensi bisa atau mampu dalam meresensi sebuah novel apalagi
sebuah film. Saya hanya ingin memberi beberapa catatan atas beberapa tradisi
Mesir pada umumnya, dan tradisi Kristen Koptik di Mesir khususnya, yang
kadang-kadang kurang tepat disampaikan dalam film ini:
4.1. Adat-Istiadat, Bahasa dan Budaya
Beberapa tokoh dalam film ini gagal memerankan tokoh orang Mesir. Madamme
Nafed (Marini), mamanya Maria, kala mengucapkan kata: “bisyur’ah” (cepat!),
tampak kurang ekspresif. Alangkah lebih “Egypt” nuansanya, bila ia berkata
dengan penekanan: “Yala, yala, bisyur’ah, Ya Maria!”, misalnya. Begitu juga,
sebagai sosok gadis Mesir, Maria yang diperankan Carissa Putri, rasanya
terlalu calm dan “melankolis”. Ketika ia mengucapkan “Afwan” (terima kasih
kembali), menjawab kata-kata Fahri ketika menerima kiriman juice mangga
yang dikirim Maria melalui tariakn keranjang kecil dari jendela kamarnya:
“Musyakirin awi’ala ashir Manggo” (Terima kasih banyak atas juice mangga)
[7]. Lebih ekspresif, seandainya Maria mengatakan: “Afwan Ya Habibi!”.
Malahan dalam suatu pesta perkawinan yang digambarkan dalam film tersebut,
tidak ada bunyi jagreed (suatu bunyi siulan ibu-ibu yang menandai
penyambutan acara-acara kegembiraan mereka). Yang juga tidak kalah penting
untuk dicermati, dialek Arab tokoh Maria ketika bertanya: Qamus ‘Arabi?,
diucapkan dalam dialek terlalu “Saudi Arabia”: Qomus ‘Arabi? Saya kira ini
salah satu kekhasan mahasiswa Islam asal Indonesia, karena ketika belajar
bahasa Arab di pesantren, lebih mirip dialek Saudi Arabia yang memang lebih
“fushah” (klasik). Tetapi tidak demikian dengan dialek Mesir, mereka tidak
mengucapkan: Subhro, Mubarok, Rohmat, melainkan: Subhra, Mubarak, Rahmat,
dan sebagainya.
Begitu juga, ungkapan salah seorang Mesir ketika melerai pertengkaran:
“Khalash! Khalash!” (sudah, sudah!), lebih “Mesir” lagi kalau diucapkan:
“Khalash, khalash ba’ah!”. Begitu juga, biasanya seorang Mesir mengucapkan
kara “La, la, la” (tidak, tidak, tidak!), sambil dengan jari terlunjuk
bergerak-gerak, dan bibir berdecak. Ucapan “ahlan”, biasanya diucapkan
berkali-kali: “Ahlan, ahlan, ahlan…” Yang lebih mengganjal lagi, dalam
salah satu percakapan, seorang tokoh mengucapkan dialek Mesir bercampur
dengan bahasa Arab klasik: Asyan Ana bahibaki awi (Karena saya sangat
mencintaimu), mestinya: Asyan Ana bahibik awi. Asyan adalah ucapan cepat
dari alashan, sedangkan Ana Bahibak, Ana bahibik, dalam bentuk klasiknya:
Ana uhibuka, Ana uhibuki.
Lokasi syuting yang memang tidak dibuat di Mesir, membuat pemirsa tidak bisa
secara utuh mengikuti dan membayangkan “suasana Mesir”. Mulai rumah-rumah
warga kelas menengah ke atas, lengkap dengan mashrabiya-nya [8], jalan-jalan
kota lama Cairo yang macet, tidak terkecuali Midan Tahrir dengan
warung-warung Asher (juice) segarnya.. Malahan dalam suatu pesta perkawinan
yang digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi jagreed (suatu bunyi
siulan ibu-ibu yang menandai penyambutan acara-acara kegembiraan mereka).
Masih banyak adat kebiasaan lain, yang dalam film ini tidak berhasil
ditonjolkan dengan baik, sehingga ber-”suasana Indonesia dan India”,
ketimbang ber-”suasana Mesir”, dan negara-negara Arab di Timur Tengah pada
umumnya.
4.2. Tradisi Kristen Koptik
Ada kesan kuat saya, bahwa penulis novel ini, sekalipun lama tinggal di
Mesir, tidak mengetahui budaya dan tradisi Kristen Koptik. Misalnya,
penggambaran Maria yang tertarik dengan Al-Qur’an karena ayat-ayatnya
di-”tilawat”-kan dengan indah. Padahal tradisi untuk membaca Kitab Suci
dengan tartil bukan hanya tradisi Islam, melainkan tradisi Timur Tengah
(baik Yahudi maupun Kristen Timur) jauh sebelum lahirnya Islam. Sampai hari
ini, gereja-gereja Timur (baik Gereja-gereja Ortodoks maupun Katolik ritus
Timur) membaca Kitab Suci yang tidak jauh berbeda.
Simbol salib hanya ditonjolkan untuk mengisi latar belakang Koptik keluarga
Maria, tetapi tradisi Koptik sama sekali tidak dipahaminya. Misalnya;
Madamme Girgis digambarkan berdoa dengan melihat kedua tangan, padahal
orang-orang Kristen di Timur Tengah berdoa dengan cara menengadahkan tangan,
sama dengan Islam. Bedanya, dalam Islam diawali dengan rumusan Basmalah:
Bismillahi rahmani rahim (Dengan Nama Allah Yang Pengasih dan Penyayang),
sedangkan dalam Kristen dengan membuat tanda salib dan berkata: Bismil Abi
wal Ibni wa Ruhil Quddus al-Ilahu Wahid, Amin (Dengan Nama Bapa, Putra dan
Roh Kudus. Allah Yang Maha Esa, Amin).
Masih ada hal yang sangat menganggu, yaitu tattoo Salib di tangan Maria
terbalik, dan terlalu besar ukurannya. Dan terakhir, permintaan Maria kepada
Fahri ketika ia terbaring sakit: “Ajarilah aku shalat!”, mestinya lebih baik
diperjelas: “Ajarilah aku shalat secara Islam!”. Mengapa? Sebab kata
“shalat” saja, di Mesir dan di negara-negara Arab yang di dalamnya umat
Islam dan Kristen hidup bersama-sama, bukan merupakan terma eksklusif
Islami. Jadi berbeda dengan negara-negara Muslim non-Arab.
Orang-orang Kristen Koptik juga mengenal waktu-waktu shalat yang tujuh kali
sehari. Waktunya sama dengan shalat Islam, ditambah dengan “shalat jam
ketiga” (kira-kira jam 09.00 pagi, untuk memperingati turunnya Roh Kudus,
Kis. 2:15), dan jam 24.00 tengah malam, yang dikenal dengan, shalat Nishfu
Lail (tengah-malam). Lima waktu shalat selebihnya untuk mengenal Thariq
al-Afam (Via Dolorosa) atau jam-jam sengsara Kristus.
Lebih jelasnya, kala shalat, jauh sebelum zaman Islam kata ini sudah dipakai
dalam bentuk Aram tselota. Menariknya, waktu-waktunya memang sama dengan
Islam (Subuh, Dhuhr, ‘Asyar, Maghrib dan Isya), dan dua sisanya sejajar
dengan salat sunnah Dhuha’ dan Tahajjud. Meskipun demikian, istilah, untuk
waktu-waktu salat tersebut berbeda, dan waktu-waktu doa ini mempunyai makna
teologis terkait dengan jam-jam sengsara Yesus Kristus (Thariq al-Afam)
sebagai berikut:
1. “Salat jam pertama” (Shalat as Sa’at al-Awwal), kira-kira jam 06.00 pagi
waktu kita, untuk mengenang saat kebangkitan Kristus Isa Al-Masih) dari
antara orang mati (Mrk.16:2).
2. “Salat jam ketiga” (Shalat as-Sa’at ats-Tsalitsah), kira-kira jam 9 pagi,
yaitu waktu pengadilan Kristus dan turunnya Roh Kudus (Mrk. 15:25; Kis.
2:15).
3. “Salat jam keenam” (Shalat as-Sa’at as-Sadi-sah), kira-kira jam 12 siang,
yaitu waktu penyaliban Kristus (Mrk. 15:33, Kis. 3:30).
4. “Salat jam kesembilan” (Shalat as-Sa’at at Tasi’ah), kira-kira jam 3
petang, untuk mengenang kematian Kristus (Mrk. 15:33,38; Kis. 3:1);
5. “Salat Terbenamnya Matahari” (Shalat al-Ghurub), yaitu waktu penguburan
jasad Kristus (Mrk.15:42).
6. “Salat waktu tidur” (Shalat ai-Naum), untuk mengenang terbaringnya tubuh
Kristus; dan;
7. “Salat Tengah Malam” (Shalat as-Satar atau Shalat Nishfu al-Layl) adalah
jam berjaga-jaga akan kedatangan Kristus (Isa Al-Masih) yang kedua kalinya
(Why. 3:3)[9].
Salat Tujuh waktu (As-Sab’u Shalawat) ini, sama sekali tidak ada hubungannya
dengan Islam. Mengapa? Karena praktek doa ini, khususnya seperti yang
dipelihara di biara-biara, sudah ada jauh sebelum zaman Islam. “Kanonisasi
(waktu-waktu) salat” (Shalat al-Fardhiyah), sudah mulai dilakukan dalam
sebuah dokumen gereja kuno berjudul Al-Dasquliyyat atau Ta’alim ar-Rusul
yang editing terdininya dikerjakan oleh St.Hypolitus pada tahun 215 M. [10]
5. Novel Religi, Film Dakwah: Bukan Film Cinta Biasa
Seperti komentar banyak tokoh dalam novel “Ayat-ayat Cinta”, memang hasil
karya Habiburrahman el-Shirazy ini bukan sekedar novel cinta biasa,
melainkan novel cinta, religi, figh, politik yang sarat dengan pesan-pesan
keagamaan. Novel ini ingin menghadirkan Islam secara damai, multi-kultural,
sarat sentuhan nilai cinta kasih, dan jauh dari gambaran kekerasan yang
selama ini sering di-stigmakan oleh orang Barat.
Meskipun demikian, novel ini juga sarat terhadap apologetika untuk membela
Islam. Semangat dakwah yang berkobar-kobar perlu diacungi jempol, tetapi
terkadang “kelewat batas”. Misalnya, dalam Bab 33: “Nyanyian dari Surga”
(tetapi bagian ini untungnya tidak divisualisasikan dalam film), Maria
bertemu dengan Bunda Maria, Ibunda Isa Al-Masih dalam mimpinya ketika
terbaring sakit. Di Bab Ar-Rahmah (pintu Rahmat), Bunda Kristus itu,
menampakkan diri begitu anggun dan luar biasa. “Dia (Allah) mendengar haru
biru tangismu”, kata Bunda Maria, “Apa maumu?”. “Aku ingin masuk surga.
Bolehkah?”, tanya Maria sambil menangis.
“Boleh”, jawab Bunda Maria. “Memang surga diperuntukkan untuk semua
hamba-Nya. Tapi kau harus tahu kuncinya”. “Apa kuncinya?”, tanya Maria.
“Nabi pilihan Muhammad Saw telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau
tidak mengetahuinya?”, tegas Bunda Maria. “Aku tidak mengikuti ajarannya”,
kata Maria. “Itu salahmu!”, kata Bunda Maria lagi. Lalu dijelaskan bahwa
jalan. ke surga itu harus lewat Islam.
“Maria, dengarlah baik-baik!”, kata Bunda Kristus kepadanya. “Nabi Muhammad
sudah mengajarkan kunci untuk masuk surga, “Barangsiapa berwudhu dengan baik
lalu mengucapkan: Asyhadu ‘an La ilaha illallah wa asyhadu anna Muhamadan
‘abduhu wa rasuluh (Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan
saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Hamba-Nya dan Rasul-Nya), maka akan
dibukakan delapan pintu surga untuknya dan ia boleh masuk yang mana ia
suka.” Maria akhirnya masuk Islam, mengucapkan syahadat dan melaksanakan
shalat sebelum ajal menjemputnya. Inilah “ending” novel dakwah ini.
6. Catatan Reflektif
Catatan reflektif saya, untuk mengakhiri artikel singkat ini, sedikit saja.
Setiap orang bebas untuk menyatakan keyakinannya. Termasuk keyakinan bahwa
surga itu hanya “hak orang-orang Muslim”. Kalau anda tertarik dengan
tawaran ini, silakan saja. Bebas dan tidak ada yang melarang. Tetapi
pernahkah anda berpikir, apakah orang lain yang berkeyakinan berbeda bebas
juga mengutarakan keyakinannya? Seperti keyakinan bahwa Bunda Maria, tokoh
paling suci dalam Kekristenan setelah Yesus Kristus, telah menunjuk bahwa
jalan ke surga harus melalui Muhammad.
Bolehkah orang Kristiani, yang mempercayai bahwa Yesus adalah Jalan dan
Kebenaran dan Hidup, dan tidak seorangpun yang sampai kepada Bapa kecuali
melalui Kristus (Yoh. 14:6), meminjam “lisan Nabi Muhammad” untuk mengajar
keyakinan itu? Moga-moga anda membolehkannya, seperti kami tidak men-demo
ketika “Ayat-ayat Cinta” meminjam “mulut suci Bunda Maria” untuk dakwah
agama Islam. Kalau begini, mengapa harus marah kepada Ahmadiyah? Sebaliknya,
mengapa harus mengelu-elukan “Injil Yudas”, dan “The Da Vinci Code”, tanpa
mempertimbangkan perasaan orang lain yang tidak menyetujuinya? Katakanlah,
“berjuta-juta orang Kristen yang tersakiti perasaannya” karena publikasi
novel dan film itu?”
Padahal film ini akan lebih mendidik lagi, kalau misalnya diungkap juga
fakta keberdampingan harmonis kehidupan umat Kristen dan umat Islam di
negeri yang oleh Ibnu Khaldun dijuluki “lbunda Dunia” ini. Misalnya,
tenda-tenda Ma’idah ar-Rahman (Jamuan Sang Pengasih), yaitu jamuan makan
gratis yang dibuka di jaan-jalan kota Kairo, yang di beberapa wilayah
Koptik, seperti Subhra, misalnya, selalu dibuka oleh uskup Gereja Ortodoks
Koptik sebagai simbol persatuan nasianal (Wihdat al- Wathani). Begitu juga,
kehadiran Syeikh Al-Azhar, Dr. Muhammad Tanthawi, pada acara ‘Idul Milad
(Natal) di Katedral Al-Qidis Marqus, Abbasiya. Tradisi saling mengucapkan
selamat hari raya, baik hari-hari raya Islam maupun hari-hari raya Kristen,
juga menjadi kebiasaan yang patut dijadikan referensi di negara-negara
mayoritas Muslim non-Arab, seperti Afganistan, Pakistan, dan Indonesia
akhir-akhir ini, yang terkadang “lebih Arab ketimbang negara-negara Arab
sendiri” [11].
Dan akhirnya, berbarengan dengan perasaan sedih dan menyayangkan peredaran
film “The Fitna”, saya yang terus menerus mencoba memahami sukacita anda
menyambut film “ayat-ayat Cinta”, izinkanlah saya mengucapkan: Mabruk,
(Selamat!) atas prestasi dan sukses film ini. Ini bukan basa-basi. Karena
sekalipun ada yang tidak saya setujui isinya, tapi hati saya turut merasakan
gembira bila anda bergembira.
*) Bambang Noorsena adalah pendiri Institute for Syriac Christian Studies
(ISCS), alumnus Kajian Perbandingan Agama pada Dar Comboni Institute, Cairo,
Mesir.
7. Lampiran Novel Ayat-ayat Cinta
Hal. 400 – HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY
Yang kuhafal, adalah surat Maryam yang tertera di dalam Al-Quran. Dengan
mengharu biru aku membacanya penuh penghayatan.
“Selesai membaca surat Maryam aku lanjutkan surat Thaha. Sampai ayat
sembilan puluh sembilan aku berhenti karenaa Babur Rahmah terbuka perlahan.
Seorang perempuan yang luar biasa anggun dan sucinya keluar mendekatiku dan
berkata, “Aku Maryam”. Yang baru saja kausebut dalam ayat-ayat suci yang kau
baca. Aku diutus oleh Allah untuk menemuimu. Dia mendengar haru biru
tangismu. Apa maumu? Aku ingin masuk surga. Bolehkah? “Boleh”. Surga memang
diperuntukkan bagi semua hambaNya: Tapi kau harus tahu kuncinya?’ Apa itu
kuncinya?
‘Nabi pilihan Muhammad Saw. telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau
tidak mengetahuinya?’ Aku tidak mengikuti ajarannya.’ Itulah salahmu.’
Kau tidak akan mendapatkan kunci itu selama kau tidak mau tunduk penuh
ikhlas mengikuti ajaran Nabi yang paling dikasihi Allah ini. Aku sebenarnya
datang untuk memberitahukan kepadamu kunci masuk surga. Tapi karena kau
sudah menjaga jarak dengan Muhammad Saw, maka aku tidak diperkenankan untuk
memberitahukan padamu.
Bunda Maryam lalu membalikkan badan dan hendak pergi. Aku langsung
menubruknya dan bersimpuh di kakinya. Aku menangis tersedu-sedu. Memohon
agar diberitahu kunci surga itu. Aku hidup untuk mencari kerelaan Tuhan. Aku
ingin masuk surga hidup bersama orang-orang yang beruntung. Aku akan
melakukan apa saja, asal masuk surga. Bunda Maryam, tolonglah aku. Berilah
aku kunci itu! Aku tidak mau pergi selama-lamanya. Aku terus menangis
sambil menyebut-nyebut nama Allah.
———————————
[1] Habiburrahman EI Shirazy, Ayat-ayat Cinta: Sebuah Novel Pembangun Jiwa.
Edisi Revisi (Jakarta: Basmala dan Harian Republika.2006).
[2] Nama Girgis (arabisasi dari nama George, seorang santo atau al-qidis,
yang sangat popuJer di Gereja-gereja orthodoks), Butros (arabisasi dari
Petrus) dan nama-nama dalam bahasa Yunani, Ibrani atau Koptik, orang-orang
Kristen Arab bisa juga memakai nama-nama Arab sebelum dan sesudah Islam.
Biasanya, nama-nama Kristen Arab misalnya: Abdul Masih (Hamba Kristus),
Abdul Fadi (Hamba Sang Penebus), cukup mudah dibedakan dengan nama-nama Arab
Muslim: Abdul Aziz, Ramadhan, Mahmud, Ahmad, Ashraf dan sebagainya. Tetapi
nama-nama seperti Abdullah (Hamba Allah), Ibrahim, Ishak, Mukmin, dan masih
banyak lagi, adalah nama-nama netral yang dipakai baik orang Kristen maupun
Islam
[3] Irish Habib al-Masri, Qishah Al-Kanisah al-Qibthiyyah. Jilid I (Cairo:
Maktabah al-Mahabbah, 2003), hlm. 20-33. Lihat juga: A. Wessels, Arab and
Christian? Christian in the Middle East (Kampen: Kok Pharos Publishing
House, 1995), him. 126.
[4] 4Lihat panduan Shalat dalam Gereja Orthodoks Koptik: A/-Ajabiyya:
As-Sab’u Sha/awot An-Nahtriyyah wa Lailiyyat (Cairo: Maktabah al-Mahabbah,
2001).
[5] 5AI-Qush Yoanis Kamal, Tartib UshbO’ A/-A/om (Oar al-Jilli
ath-Thaba’ah,2001).
[6] Munculnya tradisi tattoo salib di tangan, pertama kali berasal dari masa
penganiayaan. Tanda itu menjadi semacam kode sesama umat Kristen demi
keselamatan mereka dari para penganiaya mereka. Karena Gereja Koptik Mesir
pada zaman Romawi menjadi gereja yang teraniaya, maka tarikh Koptik yang
ditandai dengan peredaran bintang Siriuz, disebut dengan Tahun Kesyahidan
(Anno Martyri), yang tidak termasuk tahun syamsiah (matahari) ataupun
qamariyah (bulan), tetapi disebut tahun kawakibiyah (tahun bintang).
[7] Kata “musyakirin awi ala …” (Terima kasih banyak atas…) adalah
dialek khas Mesir, kata “awi” asalnya dari: “qawwi” (besar), dalam bahasa
Arab klasik: “Syukran ‘ala… ” (terima kasih atas…), atau “Alfu syukran
‘ala …” (beribu terima kasih atas…)
[8] Mashrabia adalah jendela kecil yang terbuat dari kayu dan dihias dengan
ukiran halus, biasanya digunakan oleh anak-anak gadis orang kaya untuk
mengintip keluar tetapi orang tidak bisa melihat ke dalam.
[9] Fakta bahwa seluruh gereja-gereja di Timur, baik Ortodoks maupun Katolik
ritus Timur. melaksanakan salat tujuh waktu baik sebelum maupun sesudah
Islam dengan jelas dicatat Aziz S. Atiya, History of Eastern Christianity
(Nostre Dome. Indiana: University of Nostre Dame Press, Lt.). Demikialah
catatan Aziz S. Atiya mengenai pelestarian ibadah ini pada tiap-tiap Gereja:
Orthodoks Koptik: “These seven hours consisted of the Morning prayer, Terce,
Sext, None, Vespers, Compline and the Midnight prayer…” (hlm. 128).
Mengenai Gereja Orthodoks Syria, “…keep usual hours from Matins to
Compline, with they describe as the ‘protection prayer’ (Suttara) before
retiring” (hlm. 124). Sedangkan Gereja Maronit di Lebanon: “Seven in
number., they are the Night Office, Matins, Third, Sixth and Nine Hours,
Verpers and Compline” (hlm. 414). Lebih lanjut. mengenai Shalat Tujuh Waktu
ini dalam bahasa Arab. lihat: Mar Ignatius Afram al-Awwal Borshaum (ed.),
Al-Tuhfat al-Ruhiyyahi fi ash-Shalat al-Fardhiyyah (Aleppo. Suriah: Dar
al-Raha Ii an-Nasyr. 1990).
[10] Marqus Dawud (ed.), Al-Dasquliyyah, ar Ta’alim ar Rusul (Cairo:
Maktabah al-Mahabbah, 2003), Bab: Auqat Shalawat (Waktu-waktu Salat), hlm.
171-172.
[11] Lih. Artikel saya: Bambang Noorsena, “Ramadhan di Cairo”, di Surabaya
Post, 20 Agustus 2004, yang dimuat kembali di www.iscs.id
(Sumber: Acara Forum Fokus di Gedung Kasih Bersaudara – Lt.4, Awal April
2008)
PROLOG – SEBUAH PERMULAAN ENTAH DIMANA
Mei 6, 2008Hujan sedang turun dengan derasnya.
Dan seolah tidak cukup hanya dengan menumpahkan air, Sang Langit yang kelihatan seperti sedang murka juga meniupkan angin kencang yang seakan hendak merobohkan seluruh pepohonan.
Namun sapuan angin kencang dan siraman air hujan yang membasahi sekujur sosok tubuh kurus yang tengah berlari menembus belantara hutan itu tidak mengurangi kecepatan berlarinya. Bahkan nyata terlihat jika dia malah mencoba semakin mempercepat langkah kakinya.
Sebilah pedang terhunus ditangan kanannya dengan raut wajah bercampur antara geram dan sedih pun tidak mengendorkan dekapannya pada sosok mungil yang terbungkus kain di tangan kirinya.
Entah sudah berapa jauh dia berlari, dan entah sudah berapa banyak air yang tertelan oleh sosok mungil didalam dekapannya. Yang jelas napas pria yang ditaksir berumur sekitar limapuluh tahunan ini mulai kehabisan tenaga.
Dia berhenti.
Menatap wajah mungil dalam dekapannya. Airmata mengalir ke pipinya keriputnya. Ada keputus asaan mendalam terbersit pada sinar matanya. Ada rasa penyesalan teramat sangat dalam tatapannya.
Seolah mengerti, sang bayi dengan tubuh yang mulai membiru karena diterpa dingin yang amat sangat membalas tatapan si kakek dengan sesungging senyuman kecil. Seolah dengan ikhlas dia hendak berkata,” Biarkan SANG TAKDIR menentukan NASIB kita, karena YANG TERTINGGI tidak akan meninggalkan kita”.
Seperti mendapatkan hembusan napas baru, mata sang kakek bergerak cepat menyapu sekitarnya. Lalu dia segera berlari mendekati sebuah pohon paling besar dan rindang ketika menemukan yang dikehendakinya.
Menggunakan ilmu peringan tubuh, dia mengikat sosok mungil yang memberinya kekuatan hati itu pada cabang tertinggi. Tindakan itu dia lakukan secepat mungkin karena telinganya menangkap derap kaki kuda para pengejar kian mendekat.
Setelah mengucapkan doa pada YANG TERTINGGI agar tindakannya benar, dia menggumpulkan seluruh tenaganya yang tersisa sebelum para pengejar terlihat.
Tekadnya sudah pasti. Dia akan menghabisi seluruh sisa para pengejarnya yang menurut perkiraannya tidak akan lebih dari duapuluhan orang. Dia tidak ingin terus berlari, yang tentu saja akan menghabiskan tenaganya, hingga pada saatnya dia yang akan terpojok. Sementara dia yakin masih dapat memenangkan pertarungan dengan sisa tenaganya saat ini.
Maka ketika bayang pengejar pertama tertangkap matanya dia langsung meloncat dengan pedang terhunus.
“Aaaarrghhh…!!!”
Jeritan kematian dan darah para pengejar yang disambar pedang sang kakek menambah kelam suasana malam semakin menyeramkan.
Seperti bayangan malaikat pencabut nyawa, sang kakek terus menyabetkan pedangnya untuk memisahkan raga dan roh para pengejarnya. Dalam beberapa gerakan, lima tubuh pengejarnya bergelimpangan, jatuh dari kuda tunganggan mereka.
Ringkikan kuda dan jeritan – jeritan kematian saling menyusul.
Para pengejar yang tidak menyangka bahwa yang mereka kejar akan berbalik menyerang menjadi kocar kacir. Mereka yang tadinya siap menjadi pembunuh harus menghadapi kenyataan menjadi yang terbunuh.
Untuk sesaat kemenangan berpihak pada sang kakek. Jumlah pengejar yang sesuai perkiraanya telah berkurang lebih dari separuh.
Namun sang kakek sudah cukup terkuras tenaganya karena berlari tadi.
“Craap !”
Sambaran pedang salah satu pengejar melukai perutnya.
Dia terhuyung – huyung beberapa langkah ke belakang seraya memegangi bagian perutnya yang terluka.
Merasa mendapatkan kesempatan, para pengejar yang hanya tinggal lima orang berbarengan meloncat turun dari kuda dan serentak menyerang ke arah sang kakek.
“Trang ! Trang ! Trang ! Dess !!”
Tiga serangan tertangkis. Satu tendangan telak mengenai salah satu pengejar yang langsung terkapar. Tapi dua serangan melukai pundak kiri dan sisi perut sang kakek yang satunya.
Sang kakek tahu bahwa tubuhnya tidak akan sanggup menerima serangan berikut lagi. Maka tanpa menunggu lagi, dia memutar pedangnya dengan kecepatan yang sulit ditembus mata dengan tenaga yang dia kumpulkan saat menerima serangan yang mengakibatkannya terluka tadi.
Akibatnya empat tubuh para pengejarnya yang tersisa meregang nyawa.
Sejenak sang kakek memandangi tubuh – tubuh penuh darah yang bergelimpangan sambil mengatur kembali napasnya. Dan dia bersyukur saat mendapati salah satu kuda pengejar tidak dapat kabur karena tali kekangnya tersangkut pada salah satu cabang pohon yang patah. Rasa sakit pada bagian tubuhnya yang terluka tak dirasakan.
Sebelum menurunkan sang bayi, kakek itu menotok beberapa bagian tubuhnya untuk menghentikan pendarahannya.
“Kamu benar, nak…” katanya lirih saat sang berada dalam dekapannya kembali. “ Takdir tidak mengharuskan kita mati disini…”
Mereka berjalan menuju kuda yang akan menjadi tunggangan mereka.
Tapi, “Crap!”
Sebuah kepala tombak menembus dada sang kakek dan melukai kepala sedikit sang bayi dalam gendonganya. Seiring tangis sang bayi yang meledak, tubuh sang kakek roboh bersimbah darah. Namun rupanya sang kakek masih memberikan pengorbanan terakhirnya, dia masih sempat mematahkan tombak sehingga dia roboh dengan tubuh menghadap keatas.
Tubuh sang bayi yang dipenuhi darah sang kakek selamat. Tangisnya masih berlanjut.
Pengejar dengan nyawa diujung lidah menyeringai melihat bidikan tombaknya mengenai sasaran.
Malam masih panjang. Hujan tak juga hendak reda. Sapuan angin yang membuat dedauanan berdesir bercampur tangisan sang bayi seperti menyanyikan lagu pilu.
(BERSAMBUNG)
SCENE AWAL – MEMBOSANKAN
Mei 6, 2008Scene ini paling membosankan karena gw gak bisa inget pasti apa yang gw lakuin dari umur 0-10 tahun. Taunya gw, kata abang gw sih, tadinya hidup kita pernah enak bentaran waktu masa Abang gw ngejalanin umur 0-6 tahunnya dia.
Kata Abang gw : ( Kalo gak salah inget diomongin waktu umur gw sepuluh tahunan )
“Mainan yang lo pake sekarang tuh bekasan gw semua. Dulu Papa masih punya kios kecil dipasar. Lumayanlah. Hidup dan keuangan kita masih teratur. Gw mo mainan apa juga pasti dibeliin.
Yah, nasib lo aja, dek. Cuma bisa pake bekasan gw. Udah pada setengah rusak lagi.”
— Gw gak tau persis ( en gak pernah mo tau sampe sekarang. Apalagi Papa udah almarhum ) napa sampe akhirnya jadi kurang berkecukupan —
— Mungkin karena gw aslinya emang orang yang enjoy-enjoy aja ngejalanin hidup,
kayaknya gw gak pernah merasa pernah jadi orang susah, biarpun seingat gw ( bukan dari cerita Abang gw ) kalo kita sekeluara sesekali lagi pengen makan enak – keluarga gw total tujuh orang, Mak, Papa, Abang, gw sendiri en tiga adek – beli ayam gule padang sepotong dicacah kecil-kecil buat makan siang dan malam.
Gw juga gak pernah merasa sedih harus rebutan makan udang kecil-kecil ( apa ya sebutannya? ) ama Abang en adek-adek, sampe itung-itungan sisa ekornya biar ketauan masing-masing makan berapa biji. Biasanya kalo ketauan ada yang makan lebih banyak pasti berantem. Dan kita paling berantem kalo urusan bagi jadwal kerja bantuin Mak. Yang kebagian nyapu ngiri ama yang jatahnya nyuci piring. Yang jatahnya cuci bak mandi ngiri ama yang nyapu. Yang cuci piring ngiri ama yang jatahnya ngepel. Yah, bolak balik ngiri-ngirian-lah.
Gw juga gak ngerasa nestapa kalo sebelum berangkat sekolah mesti bantuin Mak nganterin kue jajanan buat dititipin ke warung-warung. Juju raja, kadang-kadang dongkol pasti ada. Wajar, namanya juga manusia apalagi masih anak-anak.
Lagian gimana gw mo merasa susah en nestapa kalo ke sekolah gw masih bisa pake tas biar butut. Masih pake sepatu biar jelek. Sebab teman sebangku gw waktu kelas empat SD malah gak bisa punya tas sekolah. Benerkan kata orang pinter : CAKRAWALA TAK BERBATAS, yang mungkin maksudnya adalah DIATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT dan DIBAWAH PERMUKAAN MASIH ADA PERMUKAAN
BAB SATU
Mei 6, 2008SATU
“Halo…sayangku.”
Cuma satu mahluk Tuhan paling najis bersuara pales yang sok kecakepan dan merasa pe-de habis yang berani menyapanya begitu. KK mendengus kayak mau buang ingus. Kalau sudah ada maunya pasti mahluk Tuhan yang punya segudang julukan terkutuk ini bakal bermanis – manis menjijikkan.
“Pinjem PR Mister Batak reseh dong,” pinta Ruki sang mahluk Tuhan paling menjengkelkan.
Tuh ! Gak usah jadi peramal juga bisa menebak tepat. KK cuek dan diam saja. Bukan cuma gak menanggapi permohonan Ruki tapi KK juga makin asyik menenggelamkan diri dalam novel yang tengah dibacanya. Matanya sampai merem melek membayangkan wajah sang cowok idaman yang jadi tokoh utama dalam novel tersebut.
Merasa di cuekin, Ruki gak mau dibilang NATO , dia langsung action.
“Colek ahhh…”Ruki menowel pinggang KK.
“Iseng amat sih?”geram KK.
“Habis gak di sahutin sih. Pinjem dong PR-nya. Gua belum ngerjain nih.”
“Tadi malam lu kemana? Kata nyokap lu, lu gak pulang.”
“Gua nginep di bengkelnya Mas Ilham. Biasa, lagi ngejar setoran buat malam mingguan. Lumayan juga, kemarin ada dua motor yang turun mesin. Sekalian gua juga ngedandanin Harley.”
KK meringis geli. Yang dimaksud Harley oleh Ruki adalah sebuah motor tua keluaran tahun 80-an. Kasihan juga dia. Mimpi punya Harley betulan gak kesampaian, akhirnya motor butut yang hampir jadi besi kiloan di kasih nama Harley.
“Nih.” KK menyodorkan buku PR Biologinya.”Salin. Tapi buruan ya, limabelas menit lagi udah bel.”
Ruki cengar cengir kegirangan. Sebagai penyalin PR profesional dia segera memindahkan isi buku KK ke bukunya dengan sigap.
“Eh, lu gak lupa kalo hari ini ada ujian harian Bu Agnes’kan?” tanya KK sewaktu Ruki giat – giatnya memindahkan isi buku PR.
Ruki bengong. Gerakan tangan lincahnya sebagai penyalin PR professional terhenti. Ditatapnya KK dengan raut wajah bloon. Padahal gak pakai gaya muka bloon juga memang dia sudah tercipta dengan takdir muka bloon. Selain ditakdirkan bermuka bloon, Ruki juga gak mendapatkan anugrah memiliki wajah ………..
“Ujian?Emang kapan dikasih tau?”
“Emang pernah Bu Agnes ngasih tau kalo mau ujian harian?”tukas Kaka. Dia jengkel banget karena Ruki ngasih pertanyaan yang gak perlu jawaban.”Dia’kan selalu dadakan.Tapi kalo tiap minggu kedua pasti selalu ujian.”
Ruki bengong. Celaka! Bu Agnes tidak pernah main-main. Ujian hariannya sangat mempengaruhi nilai semesteran. Dan bukan cuma itu. Soal ujian hariannya super sulit. Lebih pahitnya lagi, siswa yang mendapat nilai dibawah standar akan dipajang nama dan fotonya di papan pengumuman selama seminggu.
Otaknya dipaksa berpikir cepat. Dia merasa harus menemukan cara agar ujian harian kali ini dapat digagalkan. Apapun resiko dan caranya.
Dan senyum iblis berbaju merah dengan tanduk di kepala menghiasi bibirnya ketika dia menemukan cara itu.
“Friend….”Dia menepuk bahu KK.” Gua butuh bantuan lo.”
Bertahun – tahun bergaul dan mengenal Ruki, KK udah dapat menangkap sinyal negatif dalam suara dan senyum sohibnya itu.
“Apa?Pasti yang gak enak buat gua!”
“Yakin aja. Ini win-win solution untuk bangsa dan negara,kok,” ujar Ruki meyakinkan.”Tapi lo harus bantu gua salin PR dulu.”
“Apa?!”KK melotot.”Gak deh yaaa… Terimakasih sampai jumpa lagi. Lo kira gua pesuruh?”
“Gua gak ada waktu untuk berdebat. Gini aja, lo salin PR gua. Ntar PR Matematika gua yang kerjain.Oke?”
“Oke..”Kaka langsung menyetujui. Kalau barterannya dengan PR Matematika sih dia gak bakal nolak. Dihitung-hitung dia tidak rugi.”Tapi lo mau ngapain?”
“Ada deh,”Ruki mengedipkan matanya. Lalu dalam sekejap dia berlari keluar.
Brukk!Karena bergerak cepat, dia bertubrukan dengan Dinah di depan pintu kelas. Gadis itu hampir terjatuh. Dengan cekatan Ruki memegangi tangannya seraya memohon – mohon maaf.
Tanpa menunggu Dinah memberikan maafnya, Ruki berlari ke kantin sekolah yang terletak di samping sekolah. Telinganya masih menangkap gadis itu memakinya dengan kata ‘sapi’.
Ruki belagak tuli. Sekarang bukan saatnya untuk membuka front. Ada rencana yang lebih penting untuk dikerjakan. Nanti saja dia mencari kesempatan untuk membalas makian Dinah. Prinsipnya tetap : makian harus dibalas makian. Cuma tergantung waktu saja.
Setibanya di kantin matanya bergerak cepat mencari pojokan Mbok Mar. Dia terkekeh ketika melihat yang dicarinya tersaji.
Mbok Mar heran melihatnya.
”Ada apa?Kok senyam – senyum begitu.”
“Mau sarapan enak, Mbok.”
“Bukannya udah mau bel masuk?”tanya Mbok Mar berbasa-basi sambil membersihkan piring. Padahal dia mana mau peduli bel masuk apa tidak. Namanya juga pedagang, yang penting dagangan laku.”Mau pakai apa?”
“Gak usah pakai piring,Mbok,”balas Ruki kalem.
Tangannya bergerak meraup dua renceng pete rebus. Seolah tidak ada orang lain dia melahap habis kedua renceng pete itu. Belum cukup juga dia menyambar dua buah jengkol dan mengunyahnya bak orang yang tidak makan berhari – hari.
Melihat aksi nekad Ruki, Mbok Mar hanya terheran-heran. Kesambet setan apa ya anak ini, pikirnya. Lha wong masih pagi kok ada setan iseng?
“Minta sprite, Mbok,”pinta Ruki begitu selesai dengan aksinya.”Terus tolong dihitung berapa, nanti waktu istirahat saya bayar.”
Begitu menghabiskan soft drink yang dimintanya, Ruki melesat kembali ke kelasnya. Meninggalkan Mbok Mar yang mengelus – elus dadanya melihat anak putih abu – abu itu menghabiskan sarapan ‘enak’nya.
Tepat di depan pintu kelas, Ruki menangkap sosok tubuh Bu Agnes juga tengah berjalan menuju kelas.
Ruki menduduki bangkunya dengan napas tidak teratur. Beberapa pasang mata teman-temannya menatap penuh tanda tanya melihat tingkahnya.Dia membalas tatapan mereka dengan kode jari ‘Ok’.
“Selamat pagi anak – anak…”Suara Bu Agnes memenuhi seluruh ruangan kelas.”Kalian pasti sudah siap untuk ujian harian’kan?”
Seisi kelas bergemuruh. Biasa. Namanya juga anak putih abu – abu. Kalau ditanya kesiapan untuk ujian harian pasti jawabannya berupa dengungan seribu tawon pekerja.
Ruki menyeringai licik. Reaksi yang diharapkan dari sarapannya tadi mulai terasa. Perutnya terasa terkocok. Sementara anak – anak lain mulai mengeluarkan secarik kertas untuk mengikuti ujian hariannya Bu Agnes, dia mulai menyiapkan bom waktu.
“Tuu…….uuuuut.”
Kelas masih sunyi. Beberapa diantara mereka saling berpandangan. Pandangan saling menuduh. Mereka terlalu takut untuk bersuara karena akibatnya tidak akan dapat mengikuti ujian harian.
Bu Agnes mengernyitkan dahi. Namun dia berusaha untuk toleransi terhadap bunyi tidak sedap itu. Baginya lebih penting untuk meneruskan ujian ketimbang harus marah – marah.
“Saya akan bacakan soal, kalian tuliskan jawabannya di kertas kalian masing – masing. Seperti biasa, kalau ketahuan menyontek nilai kalian akan saya kurangi.”Bu Agnes memberikan ultimatum kejamnya.
Semenit sudah berlalu sejak bunyi tidak sedap itu terdengar. Anak – anak mulai gelisah. Dengungan seperti tawon pekerja kembali mengisi ruangan kelas. Tapi mereka masih mencoba bertahan terhadap efek bunyi tak sedap itu. Ketakutan untuk tidak mendapatkan nilai masih jauh lebih besar daripada bau super tidak sedap yang mulai terasa sangat menganggu indra penciuman mereka.
Bu Agnes mulai membacakan soal. Ibu guru satu ini kelihatan tidak terpengaruh oleh efek bunyi tidak sedap berakibat bau super busuk itu.
Tapi beberapa detik kemudian wajahnya memerah. Kemarahan mulai tergambar diwajahnya.
Kemarahan itu akhirnya meledak ketika anak-anak asuhannya mulai tidak sanggup menahan bau super tidak itu. Reaksi mereka bermacam – macam. Ada yang terkikik sebab menganggap peristiwa ini lucu. Ada yang mengomel karena jengkel konsentrasinya terganggu. Ada yang saling towel-towelan untuk menuduh antar teman.
“Saya minta yang barusan buang angin untuk angkat tangan!”Bentak Bu Agnes keras.
Sontak seisi kelas kembali terdiam. Mereka hanya menutup hidung dan saling berpandangan penuh kecurigaan diantara mereka masing – masing.
Ruki terkekeh dalam hati. Upayanya berhasil. Bau super sedap yang ditimbulkannya benar – benar luar biasa. Bahkan dia sendiri merasa mual menciumnya.
KK melirik tajam ke arah temannya itu. Kini dia mengerti apa rencana jahat Ruki.
“Saya tunggu 1 menit kalau tidak ada yang mengaku seluruh kelas akan saya keluarkan!”teriak Bu Agnes berang merasa peringatan pertamanya sama sekali tidak digubris.
“Aduh, kalau tunggu satu menit lagi kita semua bisa pingsan, Bu!”.
“Iya nih, Bu. Gak kuat.”
“Kita nyerah deh, Bu. Kita ngaku aja.”
“Ayo dong, yang kentut ngaku.”
“Jangan lempar batu sembunyi tangan, dong.”
Gemuruh suara saling bersahutan serta bau yang makin menyengat membuat Bu Agnes mengambil keputusan untuk menyelamatkan diri dengan cara terhormat.
“Baik. Karena tidak ada yang mengaku, ibu akan laporkan kejadian ini ke kepala sekolah. Dan tidak ada yang boleh meninggalkan kelas sampai ibu kembali.”
Tapi siapa yang mau bertahan di ruangan yang seperti lahan pembantaian senjata kimia itu. Tanpa dikomando lagi, mereka mengekor Bu Agnes keluar dari kelas ketika tubuh sang Ibu Guru sudah menghilang di luar pintu kelas.
Seisi kelas tumpah ruah ke lapangan rumput yang berada ditengah – tengah gedung sekolah. Seperti narapidana baru dibebaskan mereka saling berlomba menarik napas dalam – dalam. Sepuasnya mereka menghirup udara yang terasa sangat menyegarkan.
Sebagian besar diantara mereka diam – diam bersyukur dan berterimakasih kepada sang penyebar bau maut. Layaknya anak – anak putih abu – abu lainnya, mereka tidak siap untuk dihadapkan pada ujian harian. Jadi untuk sementara mereka terbebas dari keharusan mengikuti ujian yang tidak dapat mereka selesaikan berkat bau maut itu.
Ruki merebahkan badannya dengan perasaan lega. Dia menoleh ketika merasakan pukulan ringan di pahanya.
“Pasti kerjaan lu!”tuduh Kaka langsung.
“Habis mau bagaimana lagi?”aku Ruki.”Itu satu – satunya cara buat selamat. Gua gak mau tampang keren gua mejeng semingguan di papan pengumuman. Gak dipajang aja gua udah banyak fans. Gimana kalo sampai dipajang ?Ntar gua kerepotan buat bagi – bagi tandatangan gua yang berharga. ”
“Sok kegantengan lu!”Kaka mencibir.”Ngomong – ngomong gimana caranya bisa bikin bau super busuk begitu?”
Ruki nyengir.”Kenapa berminat juga?”
“Yaaaa…..siapa tau suatu saat nanti bisa gua pakai strategi itu.”
“He…he…he…type manusia kayak lu sih gak bakal sanggup. Denger nih resepnya : Dua tenteng pete, dua biji jengkol abis itu sebotol sprite. Jadi deh..”
Kaka menelan ludah. Jijik. Membayangkan saja dia sudah mual apalagi kalau harus melakukannya. Ruki benar. Dia tidak akan sanggup.
“Berkumpul, anak – anak !”Suara menggelegar bak petir di siang bolong menguncang anak – anak kelas II a 3 yang mulai bergerombal seraya ngerumpi.
Bentakan itu membuat mereka segera berkumpul membentuk barisan. Semua kepala tertunduk. Menunggu hukuman apa yang akan diberikan.
“Bapak sudah dengar cerita kalian dari Ibu Agnes. Dan Bapak sangat tidak bias mentolerir tindakan kurangajar kalian,”kata Pak Iqbal, kepala sekolah SMU Aneka yang memiliki kepala seperti helm.”Sekarang Bapak minta oknum yang melakukan tindakan kurang ajar itu untuk gentleman mengakui perbuatannya. Bapak kasih waktu 3 menit. Jika tidak ada yang mengaku, Bapak akan hukum seisi kelas untuk membersihkan WC sekolah dan mencabuti rumput lapangan ini.”
Tidak perlu waktu 3 menit untuk berpikir. Seolah dapat berhubungan secara telepati, anak – anak II a 3 sudah memutuskan untuk menerima hukuman bersama. Bukan karena setia kawan. Bukan juga karena tidak ingin mendapat sebutan gentleman.
Sebagai anak – anak putih abu – abu mereka sudah terlatih untuk hitung – hitungan cepat. Bagaimana pun secara hitung – hitungan mereka akan berada di pihak menguntungkan jika menerima hukuman.
Satu.:tidak ada hukuman perorangan. Dua : tidak perlu mengikuti ujian harian Bu Agnes. Ketiga : dengan menerima hukuman mereka tidak perlu mengikuti pelajaran kedua setelah Ibu Agnes. Terakhir dan yang paling penting : sambil menjalankan hukuman mereka bisa ngerumpi. Jadi apa ruginya?
Maka proses hukuman dari kepala sekolah pun dijalankan. Tentu saja sebelumnya mereka harus menerima wejangan dari sang kepala sekolah.
“Bapak kecewa kepada kalian semua. Sebenarnya Bapak sangat mengharapkan kalian dapat berlaku seperti seorang satria. Dapat mengakui kesalahan serta menerima hukuman tanpa harus melibatkan teman – teman yang tidak bersalah. Bapak hanya dapat berharap untuk lain kali tidak ada lagi peristiwa seperti ini.Kalian mengerti semua ?”
…………………………………………………………………………………………BERSAMBUNG
UANG ROKOK SETAHUN BISA BUAT BELI APA, PA?
Mei 5, 2008Gw lagi asyik menikmati asap beracun dari rokok gw ketika anak gw yang kelas empat SD nyamperin.
Gw : Jauh…jauh…Papa kalo lagi ngerokok jangan deket-deket. BAU !
( Gw emang paling gak suka kalo lagi ngerokok ada anak-anak ato ibu-ibu ato siapa pun yang gak ngerokok ada dideket gw. Bener. Pikir gw sih, udah cukup gw ngeracunin diri sendiri, jangan sampe yang gak salah juga ikut gw bunuh )
Anak Gw : Emang Papa bau rokok…
Gw : Makanya jangan deket-deket
Anak Gw : ( Masih nekad nanya ) Emang isap rokok kayak makan permen ya, Pa ?
Gw diem. Dia ngambil bungkus rokok gw. Disodorkannya sisi kotak yang berisi peringatan.
Anak Gw : Nih, baca Pa :”MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”
Gw diem.
Anak Gw : Emang Papa sehari ngerokok berapa batang ?
Gw : Tiga bungkus
Anak Gw : Sebungkus isi berapa?
Gw : Duabelas batang
Anak Gw : Sebungkus harganya berapa ?
Gw : Tujuh ribu lima ratus. Udah jangan berisik lagi. Gih!
Anak gw pergi. Gak lama kemudian dia balik lagi bawa selembar kertas. Disodorkannya padaku. Gw liat ada hitungan matematika sederhana diatasnya :
1 hari = 3 bungkus
1 bungkus = Rp. 7.500,-
1 hari = 3 bungkus x Rp. 7.500 = Rp. 22.500,-
1 bulan = Rp. 22.500,- x 30 hari = Rp. Rp. 675.000,-
1 tahun = Rp. 675.000,- x 12 = Rp. 8.100.000,-
Gw diem.
Anak Gw : Delapan juta seratus ribu itu banyak gak sih, Pa?Bisa buat beli apa, Pa?
Gw diem. KENA GW! MAMPUS!
Anak gw bener, biar dia gak tau ukuran besarnya Rp. 8.100.000,-. Bayangin untuk sepuluh tahun kedepan tanpa ada kenaikan harga jual rokok, berapa uang yang harus gw keluarkan untuk si asap beracun?
Ah, sebodoh amatlah. Gw masih pengen ngerokok! Yang penting ANAK GW JANGAN IKUT-IKUTAN NGEROKOK!
ROKOK ITU’KAN BAU SEKALI, NAK
Pekerjaan
Mei 5, 2008catatan tgl :30/4/2008
Kadang-kadang gw tersentuh melihat perjuangan luarbiasa karyawan bagian amplas diperusahaan gw.
Bayangin aja kalo gak lembur, selama 8 jam berturut-turut-disela 1 jam istirahat-kerjanya nggegosokin patung fiber trus tanpa henti (pasti capek bgt ya. Berjam-jam tangan cuma gerak maju mundur buat ngehalusin patung)
Padahal gaji yang diterima menurut gw sih gak seberapa….
