Hujan sedang turun dengan derasnya.
Dan seolah tidak cukup hanya dengan menumpahkan air, Sang Langit yang kelihatan seperti sedang murka juga meniupkan angin kencang yang seakan hendak merobohkan seluruh pepohonan.
Namun sapuan angin kencang dan siraman air hujan yang membasahi sekujur sosok tubuh kurus yang tengah berlari menembus belantara hutan itu tidak mengurangi kecepatan berlarinya. Bahkan nyata terlihat jika dia malah mencoba semakin mempercepat langkah kakinya.
Sebilah pedang terhunus ditangan kanannya dengan raut wajah bercampur antara geram dan sedih pun tidak mengendorkan dekapannya pada sosok mungil yang terbungkus kain di tangan kirinya.
Entah sudah berapa jauh dia berlari, dan entah sudah berapa banyak air yang tertelan oleh sosok mungil didalam dekapannya. Yang jelas napas pria yang ditaksir berumur sekitar limapuluh tahunan ini mulai kehabisan tenaga.
Dia berhenti.
Menatap wajah mungil dalam dekapannya. Airmata mengalir ke pipinya keriputnya. Ada keputus asaan mendalam terbersit pada sinar matanya. Ada rasa penyesalan teramat sangat dalam tatapannya.
Seolah mengerti, sang bayi dengan tubuh yang mulai membiru karena diterpa dingin yang amat sangat membalas tatapan si kakek dengan sesungging senyuman kecil. Seolah dengan ikhlas dia hendak berkata,” Biarkan SANG TAKDIR menentukan NASIB kita, karena YANG TERTINGGI tidak akan meninggalkan kita”.
Seperti mendapatkan hembusan napas baru, mata sang kakek bergerak cepat menyapu sekitarnya. Lalu dia segera berlari mendekati sebuah pohon paling besar dan rindang ketika menemukan yang dikehendakinya.
Menggunakan ilmu peringan tubuh, dia mengikat sosok mungil yang memberinya kekuatan hati itu pada cabang tertinggi. Tindakan itu dia lakukan secepat mungkin karena telinganya menangkap derap kaki kuda para pengejar kian mendekat.
Setelah mengucapkan doa pada YANG TERTINGGI agar tindakannya benar, dia menggumpulkan seluruh tenaganya yang tersisa sebelum para pengejar terlihat.
Tekadnya sudah pasti. Dia akan menghabisi seluruh sisa para pengejarnya yang menurut perkiraannya tidak akan lebih dari duapuluhan orang. Dia tidak ingin terus berlari, yang tentu saja akan menghabiskan tenaganya, hingga pada saatnya dia yang akan terpojok. Sementara dia yakin masih dapat memenangkan pertarungan dengan sisa tenaganya saat ini.
Maka ketika bayang pengejar pertama tertangkap matanya dia langsung meloncat dengan pedang terhunus.
“Aaaarrghhh…!!!”
Jeritan kematian dan darah para pengejar yang disambar pedang sang kakek menambah kelam suasana malam semakin menyeramkan.
Seperti bayangan malaikat pencabut nyawa, sang kakek terus menyabetkan pedangnya untuk memisahkan raga dan roh para pengejarnya. Dalam beberapa gerakan, lima tubuh pengejarnya bergelimpangan, jatuh dari kuda tunganggan mereka.
Ringkikan kuda dan jeritan – jeritan kematian saling menyusul.
Para pengejar yang tidak menyangka bahwa yang mereka kejar akan berbalik menyerang menjadi kocar kacir. Mereka yang tadinya siap menjadi pembunuh harus menghadapi kenyataan menjadi yang terbunuh.
Untuk sesaat kemenangan berpihak pada sang kakek. Jumlah pengejar yang sesuai perkiraanya telah berkurang lebih dari separuh.
Namun sang kakek sudah cukup terkuras tenaganya karena berlari tadi.
“Craap !”
Sambaran pedang salah satu pengejar melukai perutnya.
Dia terhuyung – huyung beberapa langkah ke belakang seraya memegangi bagian perutnya yang terluka.
Merasa mendapatkan kesempatan, para pengejar yang hanya tinggal lima orang berbarengan meloncat turun dari kuda dan serentak menyerang ke arah sang kakek.
“Trang ! Trang ! Trang ! Dess !!”
Tiga serangan tertangkis. Satu tendangan telak mengenai salah satu pengejar yang langsung terkapar. Tapi dua serangan melukai pundak kiri dan sisi perut sang kakek yang satunya.
Sang kakek tahu bahwa tubuhnya tidak akan sanggup menerima serangan berikut lagi. Maka tanpa menunggu lagi, dia memutar pedangnya dengan kecepatan yang sulit ditembus mata dengan tenaga yang dia kumpulkan saat menerima serangan yang mengakibatkannya terluka tadi.
Akibatnya empat tubuh para pengejarnya yang tersisa meregang nyawa.
Sejenak sang kakek memandangi tubuh – tubuh penuh darah yang bergelimpangan sambil mengatur kembali napasnya. Dan dia bersyukur saat mendapati salah satu kuda pengejar tidak dapat kabur karena tali kekangnya tersangkut pada salah satu cabang pohon yang patah. Rasa sakit pada bagian tubuhnya yang terluka tak dirasakan.
Sebelum menurunkan sang bayi, kakek itu menotok beberapa bagian tubuhnya untuk menghentikan pendarahannya.
“Kamu benar, nak…” katanya lirih saat sang berada dalam dekapannya kembali. “ Takdir tidak mengharuskan kita mati disini…”
Mereka berjalan menuju kuda yang akan menjadi tunggangan mereka.
Tapi, “Crap!”
Sebuah kepala tombak menembus dada sang kakek dan melukai kepala sedikit sang bayi dalam gendonganya. Seiring tangis sang bayi yang meledak, tubuh sang kakek roboh bersimbah darah. Namun rupanya sang kakek masih memberikan pengorbanan terakhirnya, dia masih sempat mematahkan tombak sehingga dia roboh dengan tubuh menghadap keatas.
Tubuh sang bayi yang dipenuhi darah sang kakek selamat. Tangisnya masih berlanjut.
Pengejar dengan nyawa diujung lidah menyeringai melihat bidikan tombaknya mengenai sasaran.
Malam masih panjang. Hujan tak juga hendak reda. Sapuan angin yang membuat dedauanan berdesir bercampur tangisan sang bayi seperti menyanyikan lagu pilu.
(BERSAMBUNG)