Arsip untuk ‘1’ Kategori

USAHA – Asesories Kue Ulang Tahun

Mei 20, 2008

produk fiberglass

HANYA KAMI YANG DAPAT MEMBERIKAN KEPUASAN BAGI KEBUTUHAN ANDA TERHADAP ASESORIS TAMBAHAN UNTUK KUE ULANG TAHUN ATAU KEBUTUHAN LAINNYA BERBAHAN FIBERGLASS

AIBIOGRAFI – SCENE AWAL

Mei 16, 2008

Scene ini paling membosankan karena gw gak bisa inget pasti apa yang gw lakuin dari umur 0-10 tahun. Taunya gw, kata abang gw sih, tadinya hidup kita pernah enak bentaran waktu masa Abang gw ngejalanin umur 0-6 tahunnya dia.

Kata Abang gw : ( Kalo gak salah inget diomongin waktu umur gw sepuluh tahunan )
“Mainan yang lo pake sekarang tuh bekasan gw semua. Dulu Papa masih punya kios kecil dipasar. Lumayanlah. Hidup dan keuangan kita masih teratur. Gw mo mainan apa juga pasti dibeliin.

Yah, nasib lo aja, dek. Cuma bisa pake bekasan gw. Udah pada setengah rusak lagi.”

— Gw gak tau persis ( en gak pernah mo tau sampe sekarang. Apalagi Papa udah almarhum ) napa sampe akhirnya jadi kurang berkecukupan —

— Mungkin karena gw aslinya emang orang yang enjoy-enjoy aja ngejalanin hidup,
kayaknya gw gak pernah merasa pernah jadi orang susah, biarpun seingat gw ( bukan dari cerita Abang gw ) kalo kita sekeluara sesekali lagi pengen makan enak – keluarga gw total tujuh orang, Mak, Papa, Abang, gw sendiri en tiga adek – beli ayam gule padang sepotong dicacah kecil-kecil buat makan siang dan malam.

Gw juga gak pernah merasa sedih harus rebutan makan udang kecil-kecil ( apa ya sebutannya? ) ama Abang en adek-adek, sampe itung-itungan sisa ekornya biar ketauan masing-masing makan berapa biji. Biasanya kalo ketauan ada yang makan lebih banyak pasti berantem. Dan kita paling berantem kalo urusan bagi jadwal kerja bantuin Mak. Yang kebagian nyapu ngiri ama yang jatahnya nyuci piring. Yang jatahnya cuci bak mandi ngiri ama yang nyapu. Yang cuci piring ngiri ama yang jatahnya ngepel. Yah, bolak balik ngiri-ngirian-lah.

Gw juga gak ngerasa nestapa kalo sebelum berangkat sekolah mesti bantuin Mak nganterin kue jajanan buat dititipin ke warung-warung. Juju raja, kadang-kadang dongkol pasti ada. Wajar, namanya juga manusia apalagi masih anak-anak.

Lagian gimana gw mo merasa susah en nestapa kalo ke sekolah gw masih bisa pake tas biar butut. Masih pake sepatu biar jelek. Sebab teman sebangku gw waktu kelas empat SD malah gak bisa punya tas sekolah. Benerkan kata orang pinter : CAKRAWALA TAK BERBATAS, yang mungkin maksudnya adalah DIATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT dan DIBAWAH PERMUKAAN MASIH ADA PERMUKAAN.
………………………………………( sELANJUTNYA : scene pertama :
BOHONGIN EN NYOLONG DUIT TANTE YANG KAYA
BUAT BELI MAJALAH EN BUKU )

SELAYANG PANDANG KRISTEN KOPTIK DALAM NOVEL DAN FILM “AYAT-AYAT CINTA”

Mei 7, 2008

SELAYANG PANDANG KRISTEN KOPTIK DALAM NOVEL DAN FILM “AYAT-AYAT CINTA”
Oleh: Bambang Noorsena, SH, MA *
http://ourunity.blogspot.com/2008/05/selayang-pandang-kristen-koptik-dalam.html

1. Catatan Pengantar
Fenomena sukses film “Ayat-ayat Cinta”, arahan Hanung Brahmantyo ini adalah
menarik untuk dicermati. Film layar lebar yang diangkat dari novel karya
Habiburrahman el-Shirazy ini [1] dalam waktu singkat telah berhasil meraup
pemirsa lebih dari 3 juta orang di seluruh tanah air. Ada yang menonton
ka­rena memang lebih dahulu sudah menbaca novelnya, ada pula yang hanya
“sekedar ingin tahu”, karena penyam­butan film ini yang cukup luas. Bukan
hanya Dr. Din Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah, akan tetapi juga melibatkan
Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf Kala, yang memberikan sambutan antusias.

Ada yang memuji, ada pula yang menanggapi biasa-biasa saja. Ada apa di balik
novel dan film ini? Beberapa orang berkomentar, “ini iklan poligami”,
“referensi baru buat pemilik rumah makan Wong Solo”, tetapi ada pula yang
serius mencermati kaitan film dan novel ini dengan hubungan Kristen-Islam di
Mesir. Artikel singkat ini, mungkin tergolong yang terakhir, kebetulan tokoh
Maria Girgis, yang digambarkan berasal dari keluarga Kristen Koptik, Gereja
pribumi di Mesir, sebagai Gereja Ortodoks terbesar di dunia Arab. Sebagai
seorang pengamat Gereja-gereja Timur, kenyataannya saya menemukan beberapa
kejanggalan mengenai tradisi Kristen Koptik, yang digambarkan “secara sambil
lari” dalam film ini.

2. Sekilas Film “Ayat-ayat Cinta”
Sebelum memberi beberapa catatan terhadap novel dan film ini, bagi yang
tidak membaca novel atau menonton film ini, akan disarikan cerita yang
diangkat oleh novelis muda lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo, ini:

Dikisahkan, Maria Girgis (Carissa Putri), putri Tuan Butros dan Maddame
Nafed [2] bertetangga flat (apartemen) dengan Fahri, mahasiswa Indonesia
yang kuliah di Universitas al-Azhar. Maria, terlahir dari kelu­arga Kristen
Koptik, digambarkan mengagumi Al-­Qur’an, karena ayat-ayatnya yang
dilantunkan indah, bersimpati pada Fahri. Simpati yang akhirnya berubah
menjadi cinta. Sayang sekali, Maria tidak pernah mengu­tarakan perasaan
hatinya. Ia hanya menuangkannya dalam diary saja.

Selain Maria, ada juga Nurul (diperankan Melanie Putri), mahasiswi asal
Indonesia, anak seorang kyai yang cukup kesohor, yang juga menimba ilmu di
Al-­Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati kepadanya, tetapi sayang rasa cinta
itu dihalangi oleh perasaan mindernya, karena Fahri hanya anak seorang
petani. Cinta yang akhirnya tak terucapkan. Ada juga tetangga yang selalu
disiksa “ayahnya”, dan Fahri ingin menolongnya, tetapi justru itulah yang
menjadi awal bencana baginya. Fahri harus beberapa saat mendekam di penjara,
karena tu­duhan fitnah telah memperkosanya. Saat badai fitnah menimpa, saat
itu Fahri sudah menikah dengan Aisha, gadis Turki yang menjadi warga Negara
Jerman. Pen­dekatan diplomatik Indonesia buntu, gagal membebas­kan Fahri.

Tetapi berkat kewarganegaraan Jerman yang dimiliki Aisha, pengadilan Mesir
melunak. Fahri bebas, setelah dibuktikan bahwa tuduhan itu fitnah belaka.
Sebenarnya Fahri hanya difitnah, kesaksian Noura palsu karena dinyatakan di
bawah tekanan Bahadur, “ayah”­nya. Padahal Bahadur, yang ternyata bukan ayah
kan­dungnya, justru dialah yang memerkosanya, dan ingin menjualnya menjadi
seorang pelacur. Sementara itu, Ma­ria sedang sakit, karena tekanan batin
yang dideritanya karena Fahri telah menemukan “sungai Nil”-nya, dan dia
ternyata bukan dirinya. Tetapi berkat kegigihan Aisha, istri Fahri, Maria
berhasil dihadirkan ke pengadilan. Ke­datangannya menolong Fahri, karena ia
menjadi saksi ketika Fahri dan Nurul menyembunyikan Noura di ru­mah Nurul,
demi menyelamatkan Noura dari amukan Bahadur.

Justru Aisha sendiri, yang ketika Maria terbaring sakit, membaca diary-nya.
Ternyata Maria memendam rindu kepada Fahri, cinta yang dibawanya sampai ia
ter­baring sakit. Aisha terharu. Ia akhirnya bersedia “mem­bagi cinta”
dengan Maria. Suaminya justru disuruh mengawini Maria, karena itulah
satu-satunya obat bagi kesembuhannya. Fahri dan Maria pun kawin atas
res­tunya. Madamme Girgis, ibu Maria, sangat berterima kasih dengan
pengorbanan Aisha. Madamme Girgis me­meluk erat Aisha, ketika wanita
keturunan Turki itu menghindar dari akad nikah yang sedang diselenggarakan
antara Fahri dan Maria yang sedang berbaring sakit, karena tidak bisa
menahan gejolak jiwanya. Beberapa menit terakhir film ini diisi dengan
adegan kebersamaan antara Fahri dengan kedua istrinya. Ada cemburu antara
kedua istri Fahri, tetapi keduanya berusaha keras “menjaga hati”. Sementara
Fahri mempergumulkan makna keadilan bagi kedua istrinya. Aisha sedang hamil
tua dan menunggu kelahiran bayinya, sementara Maria kembali jatuh sakit.
“Ajarilah aku shalat”, ucap Maria kepada Fahri, “karena aku ingin shalat
bersama kalian”. Fahri dan Aisha terkejut luar biasa. Dan dalam keadaan
terbaring Maria shalat bersama Fahri dan Aisha, dan gadis Kristen Koptik itu
mengehembuskan nafas terakhirnya sebagai seorang muslimah.

3. Tradisi Kristen Koptik di Mesir – Selayang Pandang
Gereja Ortodoks Koptik adalah gereja pribumi Mesir. Gereja ini lahir sejak
awal sejarah Kekristenan, diawali dari kedatangan Rasul Markus, murid Rasul
Pe­trus sekaligus penerjemahnya, yang juga dikenal sebagai penulis Injil
Markus [3]. Markus mati syahid di Alexandria tahun 54 M, dan sejak saat itu
Kekristenan berkembang pesat di “Negeri Firaun” itu.

Berbeda dengan gereja-gereja di wilayah Arab utara, khususnya Gereja
Ortodoks Syria, yang sejak sebe­lum zaman Islam sudah menggunakan bahasa
Arab, terbukti dari temuan-temua prasasti pra-Islam di wilayah Syria
(Inskripsi Zabad tahun 512 M, Inskripsi Ummul Jimmal para abad VI M, dan
inskripsi Hurran al-Lajja tahun 568 M), Gereja Koptik mula-mula memakai
bahasa Koptik. Tetapi setelah kedatangan Islam, Gereja Koptik di Mesir mulai
memakai bahasa Arab, berdam­pingan dengan bahasa Koptik. Bahasa Koptik
adalah bahasa zaman Firaun yang aksara-aksaranya diperbarui dengan meminjam
aksara Yunani.

Perlu dicatat pula, di seluruh gereja Timur, termasuk Gereja Ortodoks
Koptik, masih dilestarikan ta­ta-cara ibadah dalam penghayatan budaya
Kristen mula­-mula. Misalnya: Shalat Tujuh Waktu (Sab’ush shala­wat)[4],
Shaum al-Kabir (Puasa Besar) pra-Paskah, selama minimal 40 hari, [5] membaca
Injil dengan cara dilantunkan secara tartil (dikenal dengan Mulahan Injil-
yang para­lel dengan Tilawat al-Qur’an, dan masih banyak lagi. Anda bisa
menyaksikan seorang pemuda yang komat­-kamit membaca Kitab di tangannya
sewaktu naik bus, atau kendaraan lain di Mesir. Siapakah mereka? Ternyata
bukan hanya pemuda Islam yang membaca al-Qur’an, tetapi juga pemuda-pemuda
Koptik dengan tatto Salib [6] di tangan sedang membaca kitab Agabea. Itulah
Kitab Shalat Tujuh waktu, yang tidak pernah mereka alpakan, juga ketika
mereka sedang berkendara di jalan, sepulang kantor, atau berangkat ke
kampus.

Informasi terakhir, meskipun orang Muslim atau orang Kristen di Mesir
sama-sama berbahasa Arab, tetapi antara keduanya tetap bisa dibedakan.
Idiom-­idiom keagamaan mereka berbeda, tetapi juga tidak ja­rang pula sama
atau paralel. Di koran-koran berbahasa Arab, ucapan bela sungkawa orang
Kristen biasanya di­awali ungkapan: Intiqala ila Amjadis samawat (Telah
berpulang kepada Kemuliaan Surgawi), cukup mudah dibedakan dengan kaum
Muslim: Inna Iillahi wa Inna Ilayhi Raji’un (Sesungguhnya semua karena Allah
dan kepada-Nya pula semua akan kembali). Tapi ada banyak persamaan tradisi,
misalnya: pertunangan, perkawinan, kematian, dan masih banyak lagi.

4. Resensi atas Novel dan Film “Ayat-ayat Cinta”
Kalau tidak berpretensi bisa atau mampu dalam meresensi sebuah novel apalagi
sebuah film. Saya hanya ingin memberi beberapa catatan atas beberapa tradisi
Mesir pada umumnya, dan tradisi Kristen Koptik di Mesir khususnya, yang
kadang-kadang kurang tepat di­sampaikan dalam film ini:

4.1. Adat-Istiadat, Bahasa dan Budaya
Beberapa tokoh dalam film ini gagal memerankan tokoh orang Mesir. Madamme
Nafed (Marini), mamanya Maria, kala mengucapkan kata: “bisyur’ah” (cepat!),
tampak kurang ekspresif. Alangkah lebih “Egypt” nu­ansanya, bila ia berkata
dengan penekanan: “Yala, yala, bisyur’ah, Ya Maria!”, misalnya. Begitu juga,
sebagai sosok gadis Mesir, Maria yang diperankan Carissa Putri, rasanya
terlalu calm dan “melankolis”. Ketika ia mengucapkan “Afwan” (terima kasih
kembali), menja­wab kata-kata Fahri ketika menerima kiriman juice mangga
yang dikirim Maria melalui tariakn keranjang kecil dari jendela kamarnya:
“Musyakirin awi’ala ashir Manggo” (Terima kasih banyak atas juice mangga)
[7]. Lebih ekspresif, seandainya Maria mengatakan: “Afwan Ya Habibi!”.

Malahan dalam suatu pesta perkawinan yang digambarkan dalam film tersebut,
tidak ada bunyi ja­greed (suatu bunyi siulan ibu-ibu yang menandai
pe­nyambutan acara-acara kegembiraan mereka). Yang juga tidak kalah penting
untuk dicermati, dialek Arab tokoh Maria ketika bertanya: Qamus ‘Arabi?,
diucapkan dalam dialek terlalu “Saudi Arabia”: Qomus ‘Arabi? Saya kira ini
salah satu kekhasan mahasiswa Islam asal In­donesia, karena ketika belajar
bahasa Arab di pesantren, lebih mirip dialek Saudi Arabia yang memang lebih
“fushah” (klasik). Tetapi tidak demikian dengan dialek Mesir, mereka tidak
mengucapkan: Subhro, Mubarok, Rohmat, melainkan: Subhra, Mubarak, Rahmat,
dan sebagainya.

Begitu juga, ungkapan salah seorang Mesir ketika melerai pertengkaran:
“Khalash! Khalash!” (sudah, sudah!), lebih “Mesir” lagi kalau diucapkan:
“Khalash, khalash ba’ah!”. Begitu juga, biasanya seorang Mesir mengucapkan
kara “La, la, la” (tidak, tidak, tidak!), sambil dengan jari terlunjuk
bergerak-gerak, dan bibir berdecak. Ucapan “ahlan”, biasanya diucap­kan
berkali-kali: “Ahlan, ahlan, ahlan…” Yang lebih mengganjal lagi, dalam
salah satu percakapan, seorang tokoh mengucapkan dialek Mesir bercampur
dengan bahasa Arab klasik: Asyan Ana bahibaki awi (Karena saya sangat
mencintaimu), mestinya: Asyan Ana bahibik awi. Asyan adalah ucapan cepat
dari alashan, sedangkan Ana Bahibak, Ana bahibik, dalam bentuk klasiknya:
Ana uhibuka, Ana uhibuki.

Lokasi syuting yang memang tidak dibuat di Mesir, membuat pemirsa tidak bisa
secara utuh meng­ikuti dan membayangkan “suasana Mesir”. Mulai ru­mah-rumah
warga kelas menengah ke atas, lengkap dengan mashrabiya-nya [8], jalan-jalan
kota lama Cairo yang macet, tidak terkecuali Midan Tahrir dengan
wa­rung-warung Asher (juice) segarnya.. Malahan dalam suatu pesta perkawinan
yang digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi jagreed (suatu bunyi
siulan ibu-­ibu yang menandai penyambutan acara-acara kegembi­raan mereka).
Masih banyak adat kebiasaan lain, yang dalam film ini tidak berhasil
ditonjolkan dengan baik, se­hingga ber-”suasana Indonesia dan India”,
ketimbang ber-”suasana Mesir”, dan negara-negara Arab di Timur Tengah pada
umumnya.

4.2. Tradisi Kristen Koptik
Ada kesan kuat saya, bahwa penulis novel ini, sekalipun lama tinggal di
Mesir, tidak mengetahui budaya dan tradisi Kristen Koptik. Misalnya,
penggambaran Maria yang tertarik dengan Al-Qur’an karena ayat-ayat­nya
di-”tilawat”-kan dengan indah. Padahal tradisi untuk membaca Kitab Suci
dengan tartil bukan hanya tradisi Islam, melainkan tradisi Timur Tengah
(baik Yahudi maupun Kristen Timur) jauh sebelum lahirnya Islam. Sampai hari
ini, gereja-gereja Timur (baik Gereja-gereja Ortodoks maupun Katolik ritus
Timur) membaca Kitab Suci yang tidak jauh berbeda.

Simbol salib hanya ditonjolkan untuk mengisi latar belakang Koptik keluarga
Maria, tetapi tradisi Koptik sama sekali tidak dipahaminya. Misalnya;
Madamme Girgis digambarkan berdoa dengan melihat ke­dua tangan, padahal
orang-orang Kristen di Timur Tengah berdoa dengan cara menengadahkan tangan,
sama dengan Islam. Bedanya, dalam Islam diawali dengan ru­musan Basmalah:
Bismillahi rahmani rahim (Dengan Nama Allah Yang Pengasih dan Penyayang),
sedangkan dalam Kristen dengan membuat tanda salib dan berkata: Bismil Abi
wal Ibni wa Ruhil Quddus al-Ilahu Wahid, Amin (Dengan Nama Bapa, Putra dan
Roh Kudus. Allah Yang Maha Esa, Amin).

Masih ada hal yang sangat menganggu, yaitu tattoo Salib di tangan Maria
terbalik, dan terlalu besar ukurannya. Dan terakhir, permintaan Maria kepada
Fahri ketika ia terbaring sakit: “Ajarilah aku shalat!”, mestinya lebih baik
diperjelas: “Ajarilah aku shalat secara Islam!”. Mengapa? Sebab kata
“shalat” saja, di Mesir dan di negara-negara Arab yang di dalamnya umat
Islam dan Kristen hidup bersama-sama, bukan merupakan terma eksklusif
Islami. Jadi berbeda dengan negara-negara Muslim non-Arab.

Orang-orang Kristen Koptik juga mengenal­ waktu-waktu shalat yang tujuh kali
sehari. Waktunya sama dengan shalat Islam, ditambah dengan “shalat jam
ketiga” (kira-kira jam 09.00 pagi, untuk memperingati turunnya Roh Kudus,
Kis. 2:15), dan jam 24.00 tengah malam, yang dikenal dengan, shalat Nishfu
Lail (tengah-malam). Lima waktu shalat selebihnya untuk mengenal Thariq
al-Afam (Via Dolorosa) atau jam-jam sengsara Kristus.

Lebih jelasnya, kala shalat, jauh sebelum zaman Islam kata ini sudah dipakai
dalam bentuk Aram tselota. Menariknya, waktu-waktunya memang sama dengan
Islam (Subuh, Dhuhr, ‘Asyar, Maghrib dan Isya), dan dua sisanya sejajar
dengan salat sunnah Dhuha’ dan Tahajjud. Meskipun demikian, istilah, untuk
waktu-­waktu salat tersebut berbeda, dan waktu-waktu doa ini mempunyai makna
teologis terkait dengan jam-jam sengsara Yesus Kristus (Thariq al-Afam)
sebagai berikut:

1. “Salat jam pertama” (Shalat as Sa’at al-Awwal), kira-kira jam 06.00 pagi
waktu kita, untuk mengenang saat kebangkitan Kristus Isa Al-Masih) dari
antara orang mati (Mrk.16:2).

2. “Salat jam ketiga” (Shalat as-Sa’at ats-Tsalitsah), kira-kira jam 9 pagi,
yaitu waktu pengadilan Kristus dan turunnya Roh Kudus (Mrk. 15:25; Kis.
2:15).

3. “Salat jam keenam” (Shalat as-Sa’at as-Sadi-sah), kira-kira jam 12 siang,
yaitu waktu penyaliban Kristus (Mrk. 15:33, Kis. 3:30).

4. “Salat jam kesembilan” (Shalat as-Sa’at at Tasi’ah­), kira-kira jam 3
petang, untuk mengenang kematian Kristus (Mrk. 15:33,38; Kis. 3:1);

5. “Salat Terbenamnya Matahari” (Shalat al-Ghurub), yaitu waktu penguburan
jasad Kristus (Mrk.15:42).

6. “Salat waktu tidur” (Shalat ai-Naum), untuk mengenang terbaringnya tubuh
Kristus; dan;

7. “Salat Tengah Malam” (Shalat as-Satar atau Shalat Nishfu al-Layl) adalah
jam berjaga-jaga akan kedatangan Kristus (Isa Al-Masih) yang kedua kalinya
(Why. 3:3)[9].

Salat Tujuh waktu (As-Sab’u Shalawat) ini, sama sekali tidak ada hubungannya
dengan Islam. Me­ngapa? Karena praktek doa ini, khususnya seperti yang
dipelihara di biara-biara, sudah ada jauh sebelum zaman Islam. “Kanonisasi
(waktu-waktu) salat” (Shalat al­-Fardhiyah), sudah mulai dilakukan dalam
sebuah doku­men gereja kuno berjudul Al-Dasquliyyat atau Ta’alim ar-Rusul
yang editing terdininya dikerjakan oleh St.Hypolitus pada tahun 215 M. [10]

5. Novel Religi, Film Dakwah: Bukan Film Cinta Biasa
Seperti komentar banyak tokoh dalam novel “Ayat-ayat Cinta”, memang hasil
karya Habiburrahman el-Shirazy ini bukan sekedar novel cinta biasa,
melainkan novel cinta, religi, figh, politik yang sarat dengan pesan-­pesan
keagamaan. Novel ini ingin menghadirkan Islam secara damai, multi-kultural,
sarat sentuhan nilai cinta kasih, dan jauh dari gambaran kekerasan yang
selama ini sering di-stigmakan oleh orang Barat.

Meskipun demikian, novel ini juga sarat terhadap apologetika untuk membela
Islam. Semangat dakwah yang berkobar-kobar perlu diacungi jempol, tetapi
ter­kadang “kelewat batas”. Misalnya, dalam Bab 33: “Nya­nyian dari Surga”
(tetapi bagian ini untungnya tidak divisualisasikan dalam film), Maria
bertemu dengan Bunda Maria, Ibunda Isa Al-Masih dalam mimpinya ketika
terbaring sakit. Di Bab Ar-Rahmah (pintu Rah­mat), Bunda Kristus itu,
menampakkan diri begitu ang­gun dan luar biasa. “Dia (Allah) mendengar haru
biru tangismu”, kata Bunda Maria, “Apa maumu?”. “Aku ingin masuk surga.
Bolehkah?”, tanya Maria sambil menangis.

“Boleh”, jawab Bunda Maria. “Memang surga diperuntukkan untuk semua
hamba-Nya. Tapi kau harus tahu kuncinya”. “Apa kuncinya?”, tanya Maria.
“Nabi pilihan Muhammad Saw telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau
tidak mengetahuinya?”, tegas Bunda Maria. “Aku tidak mengikuti ajarannya”,
kata Maria. “Itu salahmu!”, kata Bunda Maria lagi. Lalu dijelaskan bahwa
jalan. ke surga itu harus lewat Islam.

“Maria, dengarlah baik-baik!”, kata Bunda Kristus kepadanya. “Nabi Muhammad
sudah mengajarkan kunci untuk masuk surga, “Barangsiapa berwudhu dengan baik
lalu mengucapkan: Asyhadu ‘an La ilaha illallah wa asyhadu anna Muhamadan
‘abduhu wa rasuluh (Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan
saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Hamba-Nya dan Rasul-Nya), maka akan
dibukakan delapan pintu surga untuknya dan ia boleh masuk yang mana ia
suka.” Maria akhirnya masuk Islam, mengucapkan syahadat dan me­laksanakan
shalat sebelum ajal menjemputnya. Inilah “ending” novel dakwah ini.

6. Catatan Reflektif
Catatan reflektif saya, untuk mengakhiri artikel singkat ini, sedikit saja.
Setiap orang bebas untuk me­nyatakan keyakinannya. Termasuk keyakinan bahwa
sur­ga itu hanya “hak orang-orang Muslim”. Kalau anda tertarik dengan
tawaran ini, silakan saja. Bebas dan tidak ada yang melarang. Tetapi
pernahkah anda berpikir, apa­kah orang lain yang berkeyakinan berbeda bebas
juga mengutarakan keyakinannya? Seperti keyakinan bahwa Bunda Maria, tokoh
paling suci dalam Kekristenan sete­lah Yesus Kristus, telah menunjuk bahwa
jalan ke surga harus melalui Muhammad.

Bolehkah orang Kristiani, yang mempercayai bahwa Yesus adalah Jalan dan
Kebenaran dan Hidup, dan tidak seorangpun yang sampai kepada Bapa kecuali
melalui Kristus (Yoh. 14:6), meminjam “lisan Nabi Muhammad” untuk mengajar
keyakinan itu? Moga-­moga anda membolehkannya, seperti kami tidak men-­demo
ketika “Ayat-ayat Cinta” meminjam “mulut suci Bunda Maria” untuk dakwah
agama Islam. Kalau begini, mengapa harus marah kepada Ahmadiyah? Sebaliknya,
mengapa harus mengelu-elukan “Injil Yudas”, dan “The Da Vinci Code”, tanpa
mempertimbangkan pera­saan orang lain yang tidak menyetujuinya? Katakanlah,
“berjuta-juta orang Kristen yang tersakiti perasaannya” karena publikasi
novel dan film itu?”

Padahal film ini akan lebih mendidik lagi, kalau misalnya diungkap juga
fakta keberdampingan harmonis kehidupan umat Kristen dan umat Islam di
negeri yang oleh Ibnu Khaldun dijuluki “lbunda Dunia” ini. Mi­salnya,
tenda-tenda Ma’idah ar-Rahman (Jamuan Sang Pengasih), yaitu jamuan makan
gratis yang dibuka di jaan-jalan kota Kairo, yang di beberapa wilayah
Koptik, seperti Subhra, misalnya, selalu dibuka oleh uskup Gereja Ortodoks
Koptik sebagai simbol persatuan nasi­anal (Wihdat al- Wathani). Begitu juga,
kehadiran Syeikh Al-Azhar, Dr. Muhammad Tanthawi, pada acara ‘Idul Milad
(Natal) di Katedral Al-Qidis Marqus, Abbasiya. Tradisi saling mengucapkan
selamat hari raya, baik hari-hari raya Islam maupun hari-hari raya Kristen,
juga menjadi kebiasaan yang patut dijadikan referensi di negara-negara
mayoritas Muslim non-Arab, seperti Afga­nistan, Pakistan, dan Indonesia
akhir-akhir ini, yang terkadang “lebih Arab ketimbang negara-negara Arab
sendiri” [11].

Dan akhirnya, berbarengan dengan perasaan sedih dan menyayangkan peredaran
film “The Fitna”, saya yang terus menerus mencoba memahami sukacita anda
menyambut film “ayat-ayat Cinta”, izinkanlah saya mengucapkan: Mabruk,
(Selamat!) atas prestasi dan sukses film ini. Ini bukan basa-basi. Karena
sekalipun ada yang tidak saya setujui isinya, tapi hati saya turut merasakan
gembira bila anda bergembira.

*) Bambang Noorsena adalah pendiri Institute for Syriac Christian Studies
(ISCS), alumnus Kajian Perbandingan Agama pada Dar Comboni Institute, Cairo,
Mesir.

7. Lampiran Novel Ayat-ayat Cinta
Hal. 400 – HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY

Yang kuhafal, adalah surat Maryam yang tertera di dalam Al-Quran. Dengan
mengharu biru aku membacanya penuh penghayatan.

“Selesai membaca surat Maryam aku lanjutkan surat Thaha. Sampai ayat
sembilan puluh sembilan aku berhenti karenaa Babur Rahmah terbuka perlahan.
Seorang perempuan yang luar biasa anggun dan sucinya keluar mendekatiku dan
berkata, “Aku Maryam”. Yang baru saja kausebut dalam ayat-ayat suci yang kau
baca. Aku diutus oleh Allah untuk menemuimu. Dia mendengar haru biru
tangismu. Apa maumu? Aku ingin masuk surga. Bolehkah? “Boleh”. Surga memang
diperuntukkan bagi semua hamba­Nya: Tapi kau harus tahu kuncinya?’ Apa itu
kuncinya?

‘Nabi pilihan Muhammad Saw. telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau
tidak mengetahuinya?’ Aku tidak mengikuti ajarannya.’ Itulah salahmu.’

Kau tidak akan mendapatkan kunci itu selama kau tidak mau tunduk penuh
ikhlas mengikuti ajaran Nabi yang paling dikasihi Allah ini. Aku sebenarnya
datang untuk memberitahukan kepadamu kunci masuk surga. Tapi karena kau
sudah menjaga jarak dengan Muhammad Saw, maka aku tidak diperkenankan untuk
memberitahukan padamu.

Bunda Maryam lalu membalikkan badan dan hendak pergi. Aku langsung
menubruknya dan bersimpuh di kakinya. Aku menangis tersedu-sedu. Memohon
agar diberitahu kunci surga itu. Aku hidup untuk mencari kerelaan Tuhan. Aku
ingin masuk surga hidup bersama orang-orang yang beruntung. Aku akan
melakukan apa saja, asal masuk surga. Bunda Maryam, tolonglah aku. Berilah
aku kunci itu! Aku tidak mau pergi selama-lama­nya. Aku terus menangis
sambil menyebut-nyebut nama Allah.

———————————
[1] Habiburrahman EI Shirazy, Ayat-ayat Cinta: Sebuah Novel Pembangun Jiwa.
Edisi Revisi (Jakarta: Basmala dan Harian Republika.2006).

[2] Nama Girgis (arabisasi dari nama George, seorang santo atau al-qidis,
yang sangat popuJer di Gereja-gereja orthodoks), Butros (arabisasi dari
Petrus) dan nama-nama dalam bahasa Yunani, Ibrani atau Koptik, orang-orang
Kristen Arab bisa juga memakai nama-nama Arab sebelum dan sesudah Islam.
Biasanya, nama-nama Kristen Arab misalnya: Abdul Masih (Hamba Kristus),
Abdul Fadi (Hamba Sang Penebus), cukup mudah dibedakan dengan nama-nama Arab
Muslim: Abdul Aziz, Ramadhan, Mahmud, Ahmad, Ashraf dan sebagainya. Tetapi
nama-nama seperti Abdullah (Hamba Allah), Ibrahim, Ishak, Mukmin, dan masih
banyak lagi, adalah nama-nama netral yang dipakai baik orang Kristen maupun
Islam

[3] Irish Habib al-Masri, Qishah Al-Kanisah al-Qibthiyyah. Jilid I (Cairo:
Maktabah al-Mahabbah, 2003), hlm. 20-33. Lihat juga: A. Wessels, Arab and
Christian? Christian in the Middle East (Kampen: Kok Pharos Publishing
House, 1995), him. 126.

[4] 4Lihat panduan Shalat dalam Gereja Orthodoks Koptik: A/-Ajabiyya:
As-Sab’u Sha/awot An-Nahtriyyah wa Lailiyyat (Cairo: Maktabah al-Mahabbah,
2001).

[5] 5AI-Qush Yoanis Kamal, Tartib UshbO’ A/-A/om (Oar al-Jilli
ath-Thaba’ah,2001).

[6] Munculnya tradisi tattoo salib di tangan, pertama kali berasal dari masa
penganiayaan. Tanda itu menjadi semacam kode sesama umat Kristen demi
keselamatan mereka dari para penganiaya mereka. Karena Gereja Koptik Mesir
pada zaman Romawi menjadi gereja yang teraniaya, maka tarikh Koptik yang
ditandai dengan peredaran bintang Siriuz, disebut dengan Tahun Kesyahidan
(Anno Martyri), yang tidak termasuk tahun syamsiah (matahari) ataupun
qamariyah (bulan), tetapi disebut tahun kawakibiyah (tahun bintang).

[7] Kata “musyakirin awi ala …” (Terima kasih banyak atas…) adalah
dialek khas Mesir, kata “awi” asalnya dari: “qa­wwi” (besar), dalam bahasa
Arab klasik: “Syukran ‘ala… ” (terima kasih atas…), atau “Alfu syukran
‘ala …” (beribu terima kasih atas…)

[8] Mashrabia adalah jendela kecil yang terbuat dari kayu dan dihias dengan
ukiran halus, biasanya digunakan oleh anak-anak gadis orang kaya untuk
mengintip keluar tetapi orang tidak bisa melihat ke dalam.

[9] Fakta bahwa seluruh gereja-gereja di Timur, baik Ortodoks maupun Katolik
ritus Timur. melaksanakan salat tujuh waktu baik sebelum maupun sesudah
Islam dengan jelas dicatat Aziz S. Atiya, History of Eastern Christianity
(Nostre Dome. Indiana: University of Nostre Dame Press, Lt.). Demikialah
catatan Aziz S. Atiya mengenai pelestarian ibadah ini pada tiap-tiap Gereja:
Orthodoks Koptik: “These seven hours consisted of the Morning prayer, Terce,
Sext, None, Vespers, Compline and the Midnight prayer…” (hlm. 128).
Mengenai Gereja Orthodoks Syria, “…keep usual hours from Matins to
Compline, with they describe as the ‘protection prayer’ (Suttara) before
retiring” (hlm. 124). Se­dangkan Gereja Maronit di Lebanon: “Seven in
number., they are the Night Office, Matins, Third, Sixth and Nine Hours,
Verpers and Compline” (hlm. 414). Lebih lanjut. mengenai Shalat Tujuh Waktu
ini dalam bahasa Arab. lihat: Mar Ignatius Afram al-Awwal Borshaum (ed.),
Al-Tuhfat al-Ruhiyyahi fi ash-Shalat al-Fardhiyyah (Aleppo. Suriah: Dar
al-Raha Ii an-Nasyr. 1990).

[10] Marqus Dawud (ed.), Al-Dasquliyyah, ar Ta’alim ar­ Rusul (Cairo:
Maktabah al-Mahabbah, 2003), Bab: Auqat Shalawat (Waktu-waktu Salat), hlm.
171-172.

[11] Lih. Artikel saya: Bambang Noorsena, “Ramadhan di Cairo”, di Surabaya
Post, 20 Agustus 2004, yang dimuat kembali di www.iscs.id

(Sumber: Acara Forum Fokus di Gedung Kasih Bersaudara – Lt.4, Awal April
2008)