Arsip untuk ‘Tulisanku’ Kategori

PROLOG – SEBUAH PERMULAAN ENTAH DIMANA

Mei 6, 2008

Hujan sedang turun dengan derasnya.
Dan seolah tidak cukup hanya dengan menumpahkan air, Sang Langit yang kelihatan seperti sedang murka juga meniupkan angin kencang yang seakan hendak merobohkan seluruh pepohonan.
Namun sapuan angin kencang dan siraman air hujan yang membasahi sekujur sosok tubuh kurus yang tengah berlari menembus belantara hutan itu tidak mengurangi kecepatan berlarinya. Bahkan nyata terlihat jika dia malah mencoba semakin mempercepat langkah kakinya.
Sebilah pedang terhunus ditangan kanannya dengan raut wajah bercampur antara geram dan sedih pun tidak mengendorkan dekapannya pada sosok mungil yang terbungkus kain di tangan kirinya.
Entah sudah berapa jauh dia berlari, dan entah sudah berapa banyak air yang tertelan oleh sosok mungil didalam dekapannya. Yang jelas napas pria yang ditaksir berumur sekitar limapuluh tahunan ini mulai kehabisan tenaga.
Dia berhenti.
Menatap wajah mungil dalam dekapannya. Airmata mengalir ke pipinya keriputnya. Ada keputus asaan mendalam terbersit pada sinar matanya. Ada rasa penyesalan teramat sangat dalam tatapannya.
Seolah mengerti, sang bayi dengan tubuh yang mulai membiru karena diterpa dingin yang amat sangat membalas tatapan si kakek dengan sesungging senyuman kecil. Seolah dengan ikhlas dia hendak berkata,” Biarkan SANG TAKDIR menentukan NASIB kita, karena YANG TERTINGGI tidak akan meninggalkan kita”.
Seperti mendapatkan hembusan napas baru, mata sang kakek bergerak cepat menyapu sekitarnya. Lalu dia segera berlari mendekati sebuah pohon paling besar dan rindang ketika menemukan yang dikehendakinya.
Menggunakan ilmu peringan tubuh, dia mengikat sosok mungil yang memberinya kekuatan hati itu pada cabang tertinggi. Tindakan itu dia lakukan secepat mungkin karena telinganya menangkap derap kaki kuda para pengejar kian mendekat.
Setelah mengucapkan doa pada YANG TERTINGGI agar tindakannya benar, dia menggumpulkan seluruh tenaganya yang tersisa sebelum para pengejar terlihat.
Tekadnya sudah pasti. Dia akan menghabisi seluruh sisa para pengejarnya yang menurut perkiraannya tidak akan lebih dari duapuluhan orang. Dia tidak ingin terus berlari, yang tentu saja akan menghabiskan tenaganya, hingga pada saatnya dia yang akan terpojok. Sementara dia yakin masih dapat memenangkan pertarungan dengan sisa tenaganya saat ini.
Maka ketika bayang pengejar pertama tertangkap matanya dia langsung meloncat dengan pedang terhunus.
“Aaaarrghhh…!!!”
Jeritan kematian dan darah para pengejar yang disambar pedang sang kakek menambah kelam suasana malam semakin menyeramkan.
Seperti bayangan malaikat pencabut nyawa, sang kakek terus menyabetkan pedangnya untuk memisahkan raga dan roh para pengejarnya. Dalam beberapa gerakan, lima tubuh pengejarnya bergelimpangan, jatuh dari kuda tunganggan mereka.
Ringkikan kuda dan jeritan – jeritan kematian saling menyusul.
Para pengejar yang tidak menyangka bahwa yang mereka kejar akan berbalik menyerang menjadi kocar kacir. Mereka yang tadinya siap menjadi pembunuh harus menghadapi kenyataan menjadi yang terbunuh.
Untuk sesaat kemenangan berpihak pada sang kakek. Jumlah pengejar yang sesuai perkiraanya telah berkurang lebih dari separuh.
Namun sang kakek sudah cukup terkuras tenaganya karena berlari tadi.
“Craap !”
Sambaran pedang salah satu pengejar melukai perutnya.
Dia terhuyung – huyung beberapa langkah ke belakang seraya memegangi bagian perutnya yang terluka.
Merasa mendapatkan kesempatan, para pengejar yang hanya tinggal lima orang berbarengan meloncat turun dari kuda dan serentak menyerang ke arah sang kakek.
“Trang ! Trang ! Trang ! Dess !!”
Tiga serangan tertangkis. Satu tendangan telak mengenai salah satu pengejar yang langsung terkapar. Tapi dua serangan melukai pundak kiri dan sisi perut sang kakek yang satunya.
Sang kakek tahu bahwa tubuhnya tidak akan sanggup menerima serangan berikut lagi. Maka tanpa menunggu lagi, dia memutar pedangnya dengan kecepatan yang sulit ditembus mata dengan tenaga yang dia kumpulkan saat menerima serangan yang mengakibatkannya terluka tadi.
Akibatnya empat tubuh para pengejarnya yang tersisa meregang nyawa.
Sejenak sang kakek memandangi tubuh – tubuh penuh darah yang bergelimpangan sambil mengatur kembali napasnya. Dan dia bersyukur saat mendapati salah satu kuda pengejar tidak dapat kabur karena tali kekangnya tersangkut pada salah satu cabang pohon yang patah. Rasa sakit pada bagian tubuhnya yang terluka tak dirasakan.
Sebelum menurunkan sang bayi, kakek itu menotok beberapa bagian tubuhnya untuk menghentikan pendarahannya.
“Kamu benar, nak…” katanya lirih saat sang berada dalam dekapannya kembali. “ Takdir tidak mengharuskan kita mati disini…”
Mereka berjalan menuju kuda yang akan menjadi tunggangan mereka.
Tapi, “Crap!”
Sebuah kepala tombak menembus dada sang kakek dan melukai kepala sedikit sang bayi dalam gendonganya. Seiring tangis sang bayi yang meledak, tubuh sang kakek roboh bersimbah darah. Namun rupanya sang kakek masih memberikan pengorbanan terakhirnya, dia masih sempat mematahkan tombak sehingga dia roboh dengan tubuh menghadap keatas.
Tubuh sang bayi yang dipenuhi darah sang kakek selamat. Tangisnya masih berlanjut.
Pengejar dengan nyawa diujung lidah menyeringai melihat bidikan tombaknya mengenai sasaran.
Malam masih panjang. Hujan tak juga hendak reda. Sapuan angin yang membuat dedauanan berdesir bercampur tangisan sang bayi seperti menyanyikan lagu pilu.

(BERSAMBUNG)

BAB SATU

Mei 6, 2008

SATU

“Halo…sayangku.”
Cuma satu mahluk Tuhan paling najis bersuara pales yang sok kecakepan dan merasa pe-de habis yang berani menyapanya begitu. KK mendengus kayak mau buang ingus. Kalau sudah ada maunya pasti mahluk Tuhan yang punya segudang julukan terkutuk ini bakal bermanis – manis menjijikkan.
“Pinjem PR Mister Batak reseh dong,” pinta Ruki sang mahluk Tuhan paling menjengkelkan.
Tuh ! Gak usah jadi peramal juga bisa menebak tepat. KK cuek dan diam saja. Bukan cuma gak menanggapi permohonan Ruki tapi KK juga makin asyik menenggelamkan diri dalam novel yang tengah dibacanya. Matanya sampai merem melek membayangkan wajah sang cowok idaman yang jadi tokoh utama dalam novel tersebut.
Merasa di cuekin, Ruki gak mau dibilang NATO , dia langsung action.
“Colek ahhh…”Ruki menowel pinggang KK.
“Iseng amat sih?”geram KK.
“Habis gak di sahutin sih. Pinjem dong PR-nya. Gua belum ngerjain nih.”
“Tadi malam lu kemana? Kata nyokap lu, lu gak pulang.”
“Gua nginep di bengkelnya Mas Ilham. Biasa, lagi ngejar setoran buat malam mingguan. Lumayan juga, kemarin ada dua motor yang turun mesin. Sekalian gua juga ngedandanin Harley.”
KK meringis geli. Yang dimaksud Harley oleh Ruki adalah sebuah motor tua keluaran tahun 80-an. Kasihan juga dia. Mimpi punya Harley betulan gak kesampaian, akhirnya motor butut yang hampir jadi besi kiloan di kasih nama Harley.
“Nih.” KK menyodorkan buku PR Biologinya.”Salin. Tapi buruan ya, limabelas menit lagi udah bel.”
Ruki cengar cengir kegirangan. Sebagai penyalin PR profesional dia segera memindahkan isi buku KK ke bukunya dengan sigap.
“Eh, lu gak lupa kalo hari ini ada ujian harian Bu Agnes’kan?” tanya KK sewaktu Ruki giat – giatnya memindahkan isi buku PR.
Ruki bengong. Gerakan tangan lincahnya sebagai penyalin PR professional terhenti. Ditatapnya KK dengan raut wajah bloon. Padahal gak pakai gaya muka bloon juga memang dia sudah tercipta dengan takdir muka bloon. Selain ditakdirkan bermuka bloon, Ruki juga gak mendapatkan anugrah memiliki wajah ………..
“Ujian?Emang kapan dikasih tau?”
“Emang pernah Bu Agnes ngasih tau kalo mau ujian harian?”tukas Kaka. Dia jengkel banget karena Ruki ngasih pertanyaan yang gak perlu jawaban.”Dia’kan selalu dadakan.Tapi kalo tiap minggu kedua pasti selalu ujian.”
Ruki bengong. Celaka! Bu Agnes tidak pernah main-main. Ujian hariannya sangat mempengaruhi nilai semesteran. Dan bukan cuma itu. Soal ujian hariannya super sulit. Lebih pahitnya lagi, siswa yang mendapat nilai dibawah standar akan dipajang nama dan fotonya di papan pengumuman selama seminggu.
Otaknya dipaksa berpikir cepat. Dia merasa harus menemukan cara agar ujian harian kali ini dapat digagalkan. Apapun resiko dan caranya.
Dan senyum iblis berbaju merah dengan tanduk di kepala menghiasi bibirnya ketika dia menemukan cara itu.
“Friend….”Dia menepuk bahu KK.” Gua butuh bantuan lo.”
Bertahun – tahun bergaul dan mengenal Ruki, KK udah dapat menangkap sinyal negatif dalam suara dan senyum sohibnya itu.
“Apa?Pasti yang gak enak buat gua!”
“Yakin aja. Ini win-win solution untuk bangsa dan negara,kok,” ujar Ruki meyakinkan.”Tapi lo harus bantu gua salin PR dulu.”
“Apa?!”KK melotot.”Gak deh yaaa… Terimakasih sampai jumpa lagi. Lo kira gua pesuruh?”
“Gua gak ada waktu untuk berdebat. Gini aja, lo salin PR gua. Ntar PR Matematika gua yang kerjain.Oke?”
“Oke..”Kaka langsung menyetujui. Kalau barterannya dengan PR Matematika sih dia gak bakal nolak. Dihitung-hitung dia tidak rugi.”Tapi lo mau ngapain?”
“Ada deh,”Ruki mengedipkan matanya. Lalu dalam sekejap dia berlari keluar.
Brukk!Karena bergerak cepat, dia bertubrukan dengan Dinah di depan pintu kelas. Gadis itu hampir terjatuh. Dengan cekatan Ruki memegangi tangannya seraya memohon – mohon maaf.
Tanpa menunggu Dinah memberikan maafnya, Ruki berlari ke kantin sekolah yang terletak di samping sekolah. Telinganya masih menangkap gadis itu memakinya dengan kata ‘sapi’.
Ruki belagak tuli. Sekarang bukan saatnya untuk membuka front. Ada rencana yang lebih penting untuk dikerjakan. Nanti saja dia mencari kesempatan untuk membalas makian Dinah. Prinsipnya tetap : makian harus dibalas makian. Cuma tergantung waktu saja.
Setibanya di kantin matanya bergerak cepat mencari pojokan Mbok Mar. Dia terkekeh ketika melihat yang dicarinya tersaji.
Mbok Mar heran melihatnya.
”Ada apa?Kok senyam – senyum begitu.”
“Mau sarapan enak, Mbok.”
“Bukannya udah mau bel masuk?”tanya Mbok Mar berbasa-basi sambil membersihkan piring. Padahal dia mana mau peduli bel masuk apa tidak. Namanya juga pedagang, yang penting dagangan laku.”Mau pakai apa?”
“Gak usah pakai piring,Mbok,”balas Ruki kalem.
Tangannya bergerak meraup dua renceng pete rebus. Seolah tidak ada orang lain dia melahap habis kedua renceng pete itu. Belum cukup juga dia menyambar dua buah jengkol dan mengunyahnya bak orang yang tidak makan berhari – hari.
Melihat aksi nekad Ruki, Mbok Mar hanya terheran-heran. Kesambet setan apa ya anak ini, pikirnya. Lha wong masih pagi kok ada setan iseng?
“Minta sprite, Mbok,”pinta Ruki begitu selesai dengan aksinya.”Terus tolong dihitung berapa, nanti waktu istirahat saya bayar.”
Begitu menghabiskan soft drink yang dimintanya, Ruki melesat kembali ke kelasnya. Meninggalkan Mbok Mar yang mengelus – elus dadanya melihat anak putih abu – abu itu menghabiskan sarapan ‘enak’nya.
Tepat di depan pintu kelas, Ruki menangkap sosok tubuh Bu Agnes juga tengah berjalan menuju kelas.
Ruki menduduki bangkunya dengan napas tidak teratur. Beberapa pasang mata teman-temannya menatap penuh tanda tanya melihat tingkahnya.Dia membalas tatapan mereka dengan kode jari ‘Ok’.
“Selamat pagi anak – anak…”Suara Bu Agnes memenuhi seluruh ruangan kelas.”Kalian pasti sudah siap untuk ujian harian’kan?”
Seisi kelas bergemuruh. Biasa. Namanya juga anak putih abu – abu. Kalau ditanya kesiapan untuk ujian harian pasti jawabannya berupa dengungan seribu tawon pekerja.
Ruki menyeringai licik. Reaksi yang diharapkan dari sarapannya tadi mulai terasa. Perutnya terasa terkocok. Sementara anak – anak lain mulai mengeluarkan secarik kertas untuk mengikuti ujian hariannya Bu Agnes, dia mulai menyiapkan bom waktu.
“Tuu…….uuuuut.”
Kelas masih sunyi. Beberapa diantara mereka saling berpandangan. Pandangan saling menuduh. Mereka terlalu takut untuk bersuara karena akibatnya tidak akan dapat mengikuti ujian harian.
Bu Agnes mengernyitkan dahi. Namun dia berusaha untuk toleransi terhadap bunyi tidak sedap itu. Baginya lebih penting untuk meneruskan ujian ketimbang harus marah – marah.
“Saya akan bacakan soal, kalian tuliskan jawabannya di kertas kalian masing – masing. Seperti biasa, kalau ketahuan menyontek nilai kalian akan saya kurangi.”Bu Agnes memberikan ultimatum kejamnya.
Semenit sudah berlalu sejak bunyi tidak sedap itu terdengar. Anak – anak mulai gelisah. Dengungan seperti tawon pekerja kembali mengisi ruangan kelas. Tapi mereka masih mencoba bertahan terhadap efek bunyi tak sedap itu. Ketakutan untuk tidak mendapatkan nilai masih jauh lebih besar daripada bau super tidak sedap yang mulai terasa sangat menganggu indra penciuman mereka.
Bu Agnes mulai membacakan soal. Ibu guru satu ini kelihatan tidak terpengaruh oleh efek bunyi tidak sedap berakibat bau super busuk itu.
Tapi beberapa detik kemudian wajahnya memerah. Kemarahan mulai tergambar diwajahnya.
Kemarahan itu akhirnya meledak ketika anak-anak asuhannya mulai tidak sanggup menahan bau super tidak itu. Reaksi mereka bermacam – macam. Ada yang terkikik sebab menganggap peristiwa ini lucu. Ada yang mengomel karena jengkel konsentrasinya terganggu. Ada yang saling towel-towelan untuk menuduh antar teman.
“Saya minta yang barusan buang angin untuk angkat tangan!”Bentak Bu Agnes keras.
Sontak seisi kelas kembali terdiam. Mereka hanya menutup hidung dan saling berpandangan penuh kecurigaan diantara mereka masing – masing.
Ruki terkekeh dalam hati. Upayanya berhasil. Bau super sedap yang ditimbulkannya benar – benar luar biasa. Bahkan dia sendiri merasa mual menciumnya.
KK melirik tajam ke arah temannya itu. Kini dia mengerti apa rencana jahat Ruki.
“Saya tunggu 1 menit kalau tidak ada yang mengaku seluruh kelas akan saya keluarkan!”teriak Bu Agnes berang merasa peringatan pertamanya sama sekali tidak digubris.
“Aduh, kalau tunggu satu menit lagi kita semua bisa pingsan, Bu!”.
“Iya nih, Bu. Gak kuat.”
“Kita nyerah deh, Bu. Kita ngaku aja.”
“Ayo dong, yang kentut ngaku.”
“Jangan lempar batu sembunyi tangan, dong.”
Gemuruh suara saling bersahutan serta bau yang makin menyengat membuat Bu Agnes mengambil keputusan untuk menyelamatkan diri dengan cara terhormat.
“Baik. Karena tidak ada yang mengaku, ibu akan laporkan kejadian ini ke kepala sekolah. Dan tidak ada yang boleh meninggalkan kelas sampai ibu kembali.”
Tapi siapa yang mau bertahan di ruangan yang seperti lahan pembantaian senjata kimia itu. Tanpa dikomando lagi, mereka mengekor Bu Agnes keluar dari kelas ketika tubuh sang Ibu Guru sudah menghilang di luar pintu kelas.
Seisi kelas tumpah ruah ke lapangan rumput yang berada ditengah – tengah gedung sekolah. Seperti narapidana baru dibebaskan mereka saling berlomba menarik napas dalam – dalam. Sepuasnya mereka menghirup udara yang terasa sangat menyegarkan.
Sebagian besar diantara mereka diam – diam bersyukur dan berterimakasih kepada sang penyebar bau maut. Layaknya anak – anak putih abu – abu lainnya, mereka tidak siap untuk dihadapkan pada ujian harian. Jadi untuk sementara mereka terbebas dari keharusan mengikuti ujian yang tidak dapat mereka selesaikan berkat bau maut itu.
Ruki merebahkan badannya dengan perasaan lega. Dia menoleh ketika merasakan pukulan ringan di pahanya.
“Pasti kerjaan lu!”tuduh Kaka langsung.
“Habis mau bagaimana lagi?”aku Ruki.”Itu satu – satunya cara buat selamat. Gua gak mau tampang keren gua mejeng semingguan di papan pengumuman. Gak dipajang aja gua udah banyak fans. Gimana kalo sampai dipajang ?Ntar gua kerepotan buat bagi – bagi tandatangan gua yang berharga. ”
“Sok kegantengan lu!”Kaka mencibir.”Ngomong – ngomong gimana caranya bisa bikin bau super busuk begitu?”
Ruki nyengir.”Kenapa berminat juga?”
“Yaaaa…..siapa tau suatu saat nanti bisa gua pakai strategi itu.”
“He…he…he…type manusia kayak lu sih gak bakal sanggup. Denger nih resepnya : Dua tenteng pete, dua biji jengkol abis itu sebotol sprite. Jadi deh..”
Kaka menelan ludah. Jijik. Membayangkan saja dia sudah mual apalagi kalau harus melakukannya. Ruki benar. Dia tidak akan sanggup.
“Berkumpul, anak – anak !”Suara menggelegar bak petir di siang bolong menguncang anak – anak kelas II a 3 yang mulai bergerombal seraya ngerumpi.
Bentakan itu membuat mereka segera berkumpul membentuk barisan. Semua kepala tertunduk. Menunggu hukuman apa yang akan diberikan.
“Bapak sudah dengar cerita kalian dari Ibu Agnes. Dan Bapak sangat tidak bias mentolerir tindakan kurangajar kalian,”kata Pak Iqbal, kepala sekolah SMU Aneka yang memiliki kepala seperti helm.”Sekarang Bapak minta oknum yang melakukan tindakan kurang ajar itu untuk gentleman mengakui perbuatannya. Bapak kasih waktu 3 menit. Jika tidak ada yang mengaku, Bapak akan hukum seisi kelas untuk membersihkan WC sekolah dan mencabuti rumput lapangan ini.”
Tidak perlu waktu 3 menit untuk berpikir. Seolah dapat berhubungan secara telepati, anak – anak II a 3 sudah memutuskan untuk menerima hukuman bersama. Bukan karena setia kawan. Bukan juga karena tidak ingin mendapat sebutan gentleman.
Sebagai anak – anak putih abu – abu mereka sudah terlatih untuk hitung – hitungan cepat. Bagaimana pun secara hitung – hitungan mereka akan berada di pihak menguntungkan jika menerima hukuman.
Satu.:tidak ada hukuman perorangan. Dua : tidak perlu mengikuti ujian harian Bu Agnes. Ketiga : dengan menerima hukuman mereka tidak perlu mengikuti pelajaran kedua setelah Ibu Agnes. Terakhir dan yang paling penting : sambil menjalankan hukuman mereka bisa ngerumpi. Jadi apa ruginya?
Maka proses hukuman dari kepala sekolah pun dijalankan. Tentu saja sebelumnya mereka harus menerima wejangan dari sang kepala sekolah.
“Bapak kecewa kepada kalian semua. Sebenarnya Bapak sangat mengharapkan kalian dapat berlaku seperti seorang satria. Dapat mengakui kesalahan serta menerima hukuman tanpa harus melibatkan teman – teman yang tidak bersalah. Bapak hanya dapat berharap untuk lain kali tidak ada lagi peristiwa seperti ini.Kalian mengerti semua ?”
…………………………………………………………………………………………BERSAMBUNG