Arsip untuk ‘NOVEL : LU MESTINYA MIKIIIR...!’ Kategori

BAB SATU

Mei 6, 2008

SATU

“Halo…sayangku.”
Cuma satu mahluk Tuhan paling najis bersuara pales yang sok kecakepan dan merasa pe-de habis yang berani menyapanya begitu. KK mendengus kayak mau buang ingus. Kalau sudah ada maunya pasti mahluk Tuhan yang punya segudang julukan terkutuk ini bakal bermanis – manis menjijikkan.
“Pinjem PR Mister Batak reseh dong,” pinta Ruki sang mahluk Tuhan paling menjengkelkan.
Tuh ! Gak usah jadi peramal juga bisa menebak tepat. KK cuek dan diam saja. Bukan cuma gak menanggapi permohonan Ruki tapi KK juga makin asyik menenggelamkan diri dalam novel yang tengah dibacanya. Matanya sampai merem melek membayangkan wajah sang cowok idaman yang jadi tokoh utama dalam novel tersebut.
Merasa di cuekin, Ruki gak mau dibilang NATO , dia langsung action.
“Colek ahhh…”Ruki menowel pinggang KK.
“Iseng amat sih?”geram KK.
“Habis gak di sahutin sih. Pinjem dong PR-nya. Gua belum ngerjain nih.”
“Tadi malam lu kemana? Kata nyokap lu, lu gak pulang.”
“Gua nginep di bengkelnya Mas Ilham. Biasa, lagi ngejar setoran buat malam mingguan. Lumayan juga, kemarin ada dua motor yang turun mesin. Sekalian gua juga ngedandanin Harley.”
KK meringis geli. Yang dimaksud Harley oleh Ruki adalah sebuah motor tua keluaran tahun 80-an. Kasihan juga dia. Mimpi punya Harley betulan gak kesampaian, akhirnya motor butut yang hampir jadi besi kiloan di kasih nama Harley.
“Nih.” KK menyodorkan buku PR Biologinya.”Salin. Tapi buruan ya, limabelas menit lagi udah bel.”
Ruki cengar cengir kegirangan. Sebagai penyalin PR profesional dia segera memindahkan isi buku KK ke bukunya dengan sigap.
“Eh, lu gak lupa kalo hari ini ada ujian harian Bu Agnes’kan?” tanya KK sewaktu Ruki giat – giatnya memindahkan isi buku PR.
Ruki bengong. Gerakan tangan lincahnya sebagai penyalin PR professional terhenti. Ditatapnya KK dengan raut wajah bloon. Padahal gak pakai gaya muka bloon juga memang dia sudah tercipta dengan takdir muka bloon. Selain ditakdirkan bermuka bloon, Ruki juga gak mendapatkan anugrah memiliki wajah ………..
“Ujian?Emang kapan dikasih tau?”
“Emang pernah Bu Agnes ngasih tau kalo mau ujian harian?”tukas Kaka. Dia jengkel banget karena Ruki ngasih pertanyaan yang gak perlu jawaban.”Dia’kan selalu dadakan.Tapi kalo tiap minggu kedua pasti selalu ujian.”
Ruki bengong. Celaka! Bu Agnes tidak pernah main-main. Ujian hariannya sangat mempengaruhi nilai semesteran. Dan bukan cuma itu. Soal ujian hariannya super sulit. Lebih pahitnya lagi, siswa yang mendapat nilai dibawah standar akan dipajang nama dan fotonya di papan pengumuman selama seminggu.
Otaknya dipaksa berpikir cepat. Dia merasa harus menemukan cara agar ujian harian kali ini dapat digagalkan. Apapun resiko dan caranya.
Dan senyum iblis berbaju merah dengan tanduk di kepala menghiasi bibirnya ketika dia menemukan cara itu.
“Friend….”Dia menepuk bahu KK.” Gua butuh bantuan lo.”
Bertahun – tahun bergaul dan mengenal Ruki, KK udah dapat menangkap sinyal negatif dalam suara dan senyum sohibnya itu.
“Apa?Pasti yang gak enak buat gua!”
“Yakin aja. Ini win-win solution untuk bangsa dan negara,kok,” ujar Ruki meyakinkan.”Tapi lo harus bantu gua salin PR dulu.”
“Apa?!”KK melotot.”Gak deh yaaa… Terimakasih sampai jumpa lagi. Lo kira gua pesuruh?”
“Gua gak ada waktu untuk berdebat. Gini aja, lo salin PR gua. Ntar PR Matematika gua yang kerjain.Oke?”
“Oke..”Kaka langsung menyetujui. Kalau barterannya dengan PR Matematika sih dia gak bakal nolak. Dihitung-hitung dia tidak rugi.”Tapi lo mau ngapain?”
“Ada deh,”Ruki mengedipkan matanya. Lalu dalam sekejap dia berlari keluar.
Brukk!Karena bergerak cepat, dia bertubrukan dengan Dinah di depan pintu kelas. Gadis itu hampir terjatuh. Dengan cekatan Ruki memegangi tangannya seraya memohon – mohon maaf.
Tanpa menunggu Dinah memberikan maafnya, Ruki berlari ke kantin sekolah yang terletak di samping sekolah. Telinganya masih menangkap gadis itu memakinya dengan kata ‘sapi’.
Ruki belagak tuli. Sekarang bukan saatnya untuk membuka front. Ada rencana yang lebih penting untuk dikerjakan. Nanti saja dia mencari kesempatan untuk membalas makian Dinah. Prinsipnya tetap : makian harus dibalas makian. Cuma tergantung waktu saja.
Setibanya di kantin matanya bergerak cepat mencari pojokan Mbok Mar. Dia terkekeh ketika melihat yang dicarinya tersaji.
Mbok Mar heran melihatnya.
”Ada apa?Kok senyam – senyum begitu.”
“Mau sarapan enak, Mbok.”
“Bukannya udah mau bel masuk?”tanya Mbok Mar berbasa-basi sambil membersihkan piring. Padahal dia mana mau peduli bel masuk apa tidak. Namanya juga pedagang, yang penting dagangan laku.”Mau pakai apa?”
“Gak usah pakai piring,Mbok,”balas Ruki kalem.
Tangannya bergerak meraup dua renceng pete rebus. Seolah tidak ada orang lain dia melahap habis kedua renceng pete itu. Belum cukup juga dia menyambar dua buah jengkol dan mengunyahnya bak orang yang tidak makan berhari – hari.
Melihat aksi nekad Ruki, Mbok Mar hanya terheran-heran. Kesambet setan apa ya anak ini, pikirnya. Lha wong masih pagi kok ada setan iseng?
“Minta sprite, Mbok,”pinta Ruki begitu selesai dengan aksinya.”Terus tolong dihitung berapa, nanti waktu istirahat saya bayar.”
Begitu menghabiskan soft drink yang dimintanya, Ruki melesat kembali ke kelasnya. Meninggalkan Mbok Mar yang mengelus – elus dadanya melihat anak putih abu – abu itu menghabiskan sarapan ‘enak’nya.
Tepat di depan pintu kelas, Ruki menangkap sosok tubuh Bu Agnes juga tengah berjalan menuju kelas.
Ruki menduduki bangkunya dengan napas tidak teratur. Beberapa pasang mata teman-temannya menatap penuh tanda tanya melihat tingkahnya.Dia membalas tatapan mereka dengan kode jari ‘Ok’.
“Selamat pagi anak – anak…”Suara Bu Agnes memenuhi seluruh ruangan kelas.”Kalian pasti sudah siap untuk ujian harian’kan?”
Seisi kelas bergemuruh. Biasa. Namanya juga anak putih abu – abu. Kalau ditanya kesiapan untuk ujian harian pasti jawabannya berupa dengungan seribu tawon pekerja.
Ruki menyeringai licik. Reaksi yang diharapkan dari sarapannya tadi mulai terasa. Perutnya terasa terkocok. Sementara anak – anak lain mulai mengeluarkan secarik kertas untuk mengikuti ujian hariannya Bu Agnes, dia mulai menyiapkan bom waktu.
“Tuu…….uuuuut.”
Kelas masih sunyi. Beberapa diantara mereka saling berpandangan. Pandangan saling menuduh. Mereka terlalu takut untuk bersuara karena akibatnya tidak akan dapat mengikuti ujian harian.
Bu Agnes mengernyitkan dahi. Namun dia berusaha untuk toleransi terhadap bunyi tidak sedap itu. Baginya lebih penting untuk meneruskan ujian ketimbang harus marah – marah.
“Saya akan bacakan soal, kalian tuliskan jawabannya di kertas kalian masing – masing. Seperti biasa, kalau ketahuan menyontek nilai kalian akan saya kurangi.”Bu Agnes memberikan ultimatum kejamnya.
Semenit sudah berlalu sejak bunyi tidak sedap itu terdengar. Anak – anak mulai gelisah. Dengungan seperti tawon pekerja kembali mengisi ruangan kelas. Tapi mereka masih mencoba bertahan terhadap efek bunyi tak sedap itu. Ketakutan untuk tidak mendapatkan nilai masih jauh lebih besar daripada bau super tidak sedap yang mulai terasa sangat menganggu indra penciuman mereka.
Bu Agnes mulai membacakan soal. Ibu guru satu ini kelihatan tidak terpengaruh oleh efek bunyi tidak sedap berakibat bau super busuk itu.
Tapi beberapa detik kemudian wajahnya memerah. Kemarahan mulai tergambar diwajahnya.
Kemarahan itu akhirnya meledak ketika anak-anak asuhannya mulai tidak sanggup menahan bau super tidak itu. Reaksi mereka bermacam – macam. Ada yang terkikik sebab menganggap peristiwa ini lucu. Ada yang mengomel karena jengkel konsentrasinya terganggu. Ada yang saling towel-towelan untuk menuduh antar teman.
“Saya minta yang barusan buang angin untuk angkat tangan!”Bentak Bu Agnes keras.
Sontak seisi kelas kembali terdiam. Mereka hanya menutup hidung dan saling berpandangan penuh kecurigaan diantara mereka masing – masing.
Ruki terkekeh dalam hati. Upayanya berhasil. Bau super sedap yang ditimbulkannya benar – benar luar biasa. Bahkan dia sendiri merasa mual menciumnya.
KK melirik tajam ke arah temannya itu. Kini dia mengerti apa rencana jahat Ruki.
“Saya tunggu 1 menit kalau tidak ada yang mengaku seluruh kelas akan saya keluarkan!”teriak Bu Agnes berang merasa peringatan pertamanya sama sekali tidak digubris.
“Aduh, kalau tunggu satu menit lagi kita semua bisa pingsan, Bu!”.
“Iya nih, Bu. Gak kuat.”
“Kita nyerah deh, Bu. Kita ngaku aja.”
“Ayo dong, yang kentut ngaku.”
“Jangan lempar batu sembunyi tangan, dong.”
Gemuruh suara saling bersahutan serta bau yang makin menyengat membuat Bu Agnes mengambil keputusan untuk menyelamatkan diri dengan cara terhormat.
“Baik. Karena tidak ada yang mengaku, ibu akan laporkan kejadian ini ke kepala sekolah. Dan tidak ada yang boleh meninggalkan kelas sampai ibu kembali.”
Tapi siapa yang mau bertahan di ruangan yang seperti lahan pembantaian senjata kimia itu. Tanpa dikomando lagi, mereka mengekor Bu Agnes keluar dari kelas ketika tubuh sang Ibu Guru sudah menghilang di luar pintu kelas.
Seisi kelas tumpah ruah ke lapangan rumput yang berada ditengah – tengah gedung sekolah. Seperti narapidana baru dibebaskan mereka saling berlomba menarik napas dalam – dalam. Sepuasnya mereka menghirup udara yang terasa sangat menyegarkan.
Sebagian besar diantara mereka diam – diam bersyukur dan berterimakasih kepada sang penyebar bau maut. Layaknya anak – anak putih abu – abu lainnya, mereka tidak siap untuk dihadapkan pada ujian harian. Jadi untuk sementara mereka terbebas dari keharusan mengikuti ujian yang tidak dapat mereka selesaikan berkat bau maut itu.
Ruki merebahkan badannya dengan perasaan lega. Dia menoleh ketika merasakan pukulan ringan di pahanya.
“Pasti kerjaan lu!”tuduh Kaka langsung.
“Habis mau bagaimana lagi?”aku Ruki.”Itu satu – satunya cara buat selamat. Gua gak mau tampang keren gua mejeng semingguan di papan pengumuman. Gak dipajang aja gua udah banyak fans. Gimana kalo sampai dipajang ?Ntar gua kerepotan buat bagi – bagi tandatangan gua yang berharga. ”
“Sok kegantengan lu!”Kaka mencibir.”Ngomong – ngomong gimana caranya bisa bikin bau super busuk begitu?”
Ruki nyengir.”Kenapa berminat juga?”
“Yaaaa…..siapa tau suatu saat nanti bisa gua pakai strategi itu.”
“He…he…he…type manusia kayak lu sih gak bakal sanggup. Denger nih resepnya : Dua tenteng pete, dua biji jengkol abis itu sebotol sprite. Jadi deh..”
Kaka menelan ludah. Jijik. Membayangkan saja dia sudah mual apalagi kalau harus melakukannya. Ruki benar. Dia tidak akan sanggup.
“Berkumpul, anak – anak !”Suara menggelegar bak petir di siang bolong menguncang anak – anak kelas II a 3 yang mulai bergerombal seraya ngerumpi.
Bentakan itu membuat mereka segera berkumpul membentuk barisan. Semua kepala tertunduk. Menunggu hukuman apa yang akan diberikan.
“Bapak sudah dengar cerita kalian dari Ibu Agnes. Dan Bapak sangat tidak bias mentolerir tindakan kurangajar kalian,”kata Pak Iqbal, kepala sekolah SMU Aneka yang memiliki kepala seperti helm.”Sekarang Bapak minta oknum yang melakukan tindakan kurang ajar itu untuk gentleman mengakui perbuatannya. Bapak kasih waktu 3 menit. Jika tidak ada yang mengaku, Bapak akan hukum seisi kelas untuk membersihkan WC sekolah dan mencabuti rumput lapangan ini.”
Tidak perlu waktu 3 menit untuk berpikir. Seolah dapat berhubungan secara telepati, anak – anak II a 3 sudah memutuskan untuk menerima hukuman bersama. Bukan karena setia kawan. Bukan juga karena tidak ingin mendapat sebutan gentleman.
Sebagai anak – anak putih abu – abu mereka sudah terlatih untuk hitung – hitungan cepat. Bagaimana pun secara hitung – hitungan mereka akan berada di pihak menguntungkan jika menerima hukuman.
Satu.:tidak ada hukuman perorangan. Dua : tidak perlu mengikuti ujian harian Bu Agnes. Ketiga : dengan menerima hukuman mereka tidak perlu mengikuti pelajaran kedua setelah Ibu Agnes. Terakhir dan yang paling penting : sambil menjalankan hukuman mereka bisa ngerumpi. Jadi apa ruginya?
Maka proses hukuman dari kepala sekolah pun dijalankan. Tentu saja sebelumnya mereka harus menerima wejangan dari sang kepala sekolah.
“Bapak kecewa kepada kalian semua. Sebenarnya Bapak sangat mengharapkan kalian dapat berlaku seperti seorang satria. Dapat mengakui kesalahan serta menerima hukuman tanpa harus melibatkan teman – teman yang tidak bersalah. Bapak hanya dapat berharap untuk lain kali tidak ada lagi peristiwa seperti ini.Kalian mengerti semua ?”
…………………………………………………………………………………………BERSAMBUNG